GURU SMAN 3 SUKADANA

Kepala Sekolah, Guru, beserta Staf di SMA Negeri 3 Sukadana Tahun Pelajaran 2021/2022

GURU SMAN 3 SUKADANA

Kepala Sekolah, Guru, beserta Staf di SMA Negeri 3 Sukadana Tahun Pelajaran 2018/2019

PPK SMAN 3 SUKADANA

Gerakan Mencium Tangan Orang Tua Sebelum Berangkat dan Setelah Pulang Sekolah

HINDARI NARKOBA

NARKOBA, Membunuh Anak Negeri, Memusnahkan Generasi

STRUKTUR ORGANISASI SMAN 3 SUKADANA

Tahun Pelajaran 2017/2018

VISI MISI

Visi dan Misi SMA Negeri 3 Sukadana

GURU SMAN 3 SUKADANA

Kepala Sekolah, Guru, beserta Staf di SMA Negeri 3 Sukadana Tahun Pelajaran 2022/2023

PERINGATAN HUT KE-77 REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2022

Dewan guru SMA Negeri 3 Sukadana pada saat Peringatan HUT RI 2022

PERESMIAN SMAN 3 SUKADANA

Dewan guru bersama Siswa-siswi SMA Negeri 3 Sukadana pada saat Peresmian di Teluk Batang

SMA NEGERI 3 SUKADANA

Selasa, 11 Agustus 2026

Saat Ujian Skripsi, Ia Menangis Teringat Ibunya

Oleh : Rosadi Jamani
            Baru kali ini saya melihat mahasiswa menangis saat ujian skripsi. Namanya Andi Amir Fahad Abdillah. Bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan penguji. Bukan karena skripsinya berantakan. Justru sejak pukul 08.30 hingga 11.30, ia mampu mempertahankan argumentasinya dengan tenang. 

             Tiga jam. Namun, ada satu pertanyaan sederhana ternyata lebih berat dari tiga jam ujian. Saya meminta Andi menceritakan perjuangannya sampai akhirnya duduk di ruang ujian. Ia terdiam. Kemudian memperlihatkan sebuah coretan kecil di dokumen skripsinya. “Doa Ibu.” Seketika wajahnya berubah. Matanya berkaca. Lalu air mata jatuh. Ia teringat petuah-petuah ibunya. Ruang ujian mendadak sunyi.             
            Kami berempat, para penguji, justru kelabakan mencari tisu. Andi tidak membawa tisu. Saputangan pun tidak punya. Untung Bu Yuni membawa tisu. Pagi itu, skripsi seolah berhenti sejenak. Yang diuji bukan lagi teori. Yang sedang diuji adalah hati seorang anak. Andi berasal dari Bangkalan, Madura. Ia merantau ke Kalimantan Barat. Meninggalkan kedua orang tuanya, terutama ibunya yang sangat menyayanginya. Untuk masa depan, ia memilih pergi. Ia mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Mansur, Kuala Dua, Kubu Raya. Alumni Pondok Pesantren Al-Amin, Sumenep, ini juga pernah belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri. Di Al-Mansur, ia mengajar bahasa Inggris sambil kuliah S1. 

            Masalahnya sederhana, tetapi menyakitkan, uang mengajar tidak selalu cukup. Maka ia bekerja serabutan. Apa saja. Pernah menjadi tukang panjat pohon rambutan. Nuan bayangkan. Saat sebagian orang sibuk memanjat tangga karier, Andi benar-benar memanjat pohon demi membiayai kuliahnya.                    
             Namun, hidup rupanya belum selesai mengujinya. Ia pernah ingin pulang. Bahkan mengajukan mutasi ke Bangkalan. Mungkin rindu rumah sudah terlalu berat. Mungkin lelah sudah sampai ke tulang. Tetapi Kaprodi, Bu Marhamah, menahannya dengan sebuah kalimat yang kemudian menjadi penyelamat, “Kamu memulainya di sini, harus berakhir di sini juga.” Andi akhirnya bertahan. Ia kembali kuliah. Mengajar. Bekerja. Mengerjakan penelitian. Menulis skripsi. Menangis diam-diam. Lalu pagi tadi, ia berdiri di hadapan empat penguji. Skripsi berjudul, “Evaluasi Program Kebahasaan Bilingual sebagai Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Al-Mansyur Islamic Boarding School.” Tiga jam ia bertarung dengan teori, data, pertanyaan, dan argumentasi. Ia menang. Lulus. Tetapi kemenangan itu justru dibayar dengan air mata. Sebagai pembimbing, saya ikut bangga.                 
            Bukan sekadar karena mahasiswa bimbingan saya selesai. Saya bangga karena tahu, di balik puluhan halaman skripsi itu ada seorang anak pernah memanjat pohon rambutan untuk membiayai mimpinya. Ada seorang anak pernah ingin menyerah. Ada seorang anak meninggalkan ibunya demi masa depan.

             Ada seorang ibu mungkin setiap malam hanya punya satu senjata, doa. Sebelum berpisah, saya berkata kepadanya, “Setelah ini, cepat kasih tahu ibumu bahwa Andi sudah selesai.” Ia menjawab, “Siap.” Entah bagaimana suara ibunya nanti. Mungkin akan tertawa. Mungkin akan menangis. Mungkin justru lama terdiam. Sebab seorang ibu tidak selalu menghitung berapa halaman skripsi anaknya. Ia hanya tahu, anak yang dulu dilepas dengan air mata, hari ini pulang membawa kabar, perjuangannya tidak sia-sia.
 
            Hari itu Andi lulus ujian. Tetapi sesungguhnya, yang lulus bukan hanya Andi. Yang lulus adalah doa seorang ibu. Kalau kampus punya transkrip untuk cinta, pengorbanan, air mata, dan doa ibu, mungkin nilainya tidak cukup ditulis dengan A. Sebab ada perjuangan tidak bisa diberi nilai, hanya bisa dikenang sambil menahan air mata. 


 sumber : https://www.facebook.com/share/p/1EZx3WFtd4/

Senin, 10 Agustus 2026

SAAT BAPAK BERTERIMAKASIH



    Namaku Yayan, seorang guru SMA di sebuah kecamatan di kabupaten Kayong Utara. Pagi itu, aku baru selesai berkemas untuk pergi mengajar. Tiba-tiba, hapeku berdering, disana terlihat nama pemanggil adalah Bapak. Telpon kuangkat
 ”Yan, bise ke ngantar Bapak hari ini balek ke Pulau Kumbang?” 
”Insya Allah bise pak, tapi habis dzuhur ye pak, nunggu saye habis ngajar” jawabku. 
”dak ape-ape mah, nunggu hari tedoh sikit biar Wendi dak kepanasan. Langsung jemput ke rumah Erni ye” kata Bapak 
    
    Aku pun pergi mengajar dan larut dalam kesibukanku di sekolah. Bapak pergi ke sini karena beliau ingin menonton pembukaan MTQ ke 34 Tingkat Provinsi yang diadakan di kota ini. 
”Kalo cume hiburan musik, Bapak ndak kuase nontonnye. Tapi ini MTQ, 14 tahun sekali baru ade agik. Entah waktu itu Bapak ni maseh hidup atau ndak” begitu kata Bapak saat menelponku beberapa hari yang lalu. 
    
    Waktu pun berlalu. Setelah sholat dzuhur, ku telpon lagi Bapak, menanyakan apakah Bapak dan Wendi adikku sudah makan. Beliau menjawab sudah makan di kedai menantunya. Memang, semenjak ibu meninggal, kondisi kesehatan Bapak agak menurun. Hal ini pula yang menjadi kekhawatiran terbesarku dan saudara-saudaraku. 
        
      Tubuh Bapak sudah tidak sekuat dulu. Penyakit lambung yang dideritanya, semakin membuat ringkih tubuhnya. Setelah menelpon, aku segera berangkat menuju rumah adikku untuk menjemput Bapak. Ternyata di sana beliau belum datang. Tak lama kudengar bunyi motor Bapak mendekat. 
 ”Yan, nunggu hari tedoh lok ye, panas benar hari ni” ujar Bapak saat masuk ke rumah adikku dengan mengelap peluh di dahinya karena kepanasan di jalan. 
”Iye pak,istirahatlah dolok sambil tidur biar segar pas balek sore nanti” jawabku.
 ”Dak kemalaman mah ke, kau balek nanti?” tanyanya kemudian 
”Dak mah pak, jalan pun udah bagus” kataku menjawabnya. 
Bapak masih mengkhawatirkan kesehatanku. Beliau takut kalau aku kembali drop sebab keletihan mengantarnya. 

Sore pun tiba. Kami kemudian berangkat menuju rumah Bapak. Aku sendiri membonceng Wendi, sementara Bapak membawa motor sendirian. Kurang lebih 90 menit kemudian kami sampai ke rumah Bapak. Setelah menurunkan barang dan membuka bajunya, Bapak menyuruhku membuat kopi untuknya. Sambil duduk di kursi di samping jendela, Bapak memijit-mijit kedua betisnya. 
“Mulailah betis ni sejok dan lemah. Kalo dah keletehan beginilah jadinye kondisi Bapak” katanya sambil terus memijit betisnya. 
”Abis minum kopi ni, Bapak tidoklah lok, istirahatkan badan, saye belom balek mah sampai Anti datang” ujarku.

 Setelah kopinya habis, Bapak pun masuk kamar dan berbaring. Terlihat wajahnya menahan sakit di kaki dan badannya. Hatiku perih melihat kondisinya. Ingin sekali kubawa Bapak tinggal dirumah. Namun, Bapak tidak ingin pindah dari rumah ini dengan berbagai alasan. Tak lama berselang, Anti pun datang. Setelah beberapa saat aku pun pamit pulang ke rumahku karena hari sudah menunjukkan pukul 17.30. Aku masuk ke kamar dan pamit kepada Bapak. 
”Pak, saye balek lok ye” kataku sambil mencium tangannya 
”Hati-hati dijalan ye Yan, terimakasih udah ngantar Bapak” ujar Bapak 

Mendengar itu, hatiku kembali merasakan kepiluan. Aku melangkah menaiki motorku. Sepanjang perjalanan, aku kembali mengingat ucapan terimakasih Bapak kepadaku. Hanya sekedar mengantar beliau, sebuah kebaikan kecil, Bapak sampai berterimakasih kepadaku. Bagaimana denganku? 
Betapa banyak kebaikan dan pengorbanan Bapak untukku yang sampai saat ini hanya sedikit aku berterimakasih. 
Berapa banyak hari yang dilaluinya dengan tanpa istirahat untuk mencari uang agar aku bisa minum susu saat kecil. Berapa malam yang dilalui untuk menjagaku saaat aku sakit? 
Berapa jauh jarak yang Bapak tempuh untuk menyadap karet di tengah malam buta demi membelikan makan buatku? 
Berapa banyak sakit yang Bapak tahan dan tidak dipedulikan dan beliau terus bekerja hanya agar kami memiliki makanan dan pakaian yang cukup? 
Tapi pakaian Bapak bahkan tidak mau ia ganti dan ia jahit saja bagian-bagian yang sobek. 

Air mataku meleleh tanpa bisa ku tahan. Aku menangis tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Bapak, baktiku sangat kurang kepadamu, sementara begitu banyak tingkahku yang membuatmu sedih dan terluka. Maafkan aku Bapak. Maafkan anakmu ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahimu dan semoga Allah menjadikanmu Penghuni Surga tertinggi

PAK ALUI MEMASANG JERAT

(Cerita Rakyat Dayak Simpakng)

Ditranskripsikan oleh : Bastian Arisandi


Suatu hari Pak Alui pergi memasang jerat, beberapa hari kemudian Pak Alui melihat jeratnya dan dapat seekor Pelanduk. Ia pun menyuruh Si Pelanduk untuk pulang duluan dengan membawa penambin yang diikat di tanduk Pelanduk tersebu. Tentu saja setelah beberapa lama dilepaskan Pelanduk tersebut lari dengan kencang ke dalam hutan, namun Pak Alui menyangka Pelanduk sangat semangat untuk menuju ke rumah Pak Alui untuk di masak oleh istrinya. Mak Alui marah karena Pak Alui melepas Pelanduk, ia menyarankan Pak Alui agar di pukul sampai Pelanduk mati.

Beberapa hari kemudian Pak Alui kembali melihat jeratnya, kali ini penuh dengan jamur yang enak jika di masak. Dan Pak Alui pun langsung memasuk jamur tersebut ke dalam karung dan memukul berkali-kali hingga jamur tersebut hancur dan luluh. Sampai ke rumah Mak Alui kembali memarah Pak Alui, ia menyarankan agar sebaiknya di ambil satu-satu lalu di masukkan ke dalam penambin kemudian di bawa ke rumah untuk di masak.

Selang hari berikutnya Pak Alui kembali melihat jeratnya lagi, kali ini telah ada sarang lebah pada jeratnya. Ia pun langsung mengambil satu per satu Lebah tersebut, tentu saja lebah tersebut menyengat. Namun Pak Alui tetap saja mengambil lebah-lebah itu sambil bergumam "aneh jamur kok bisa menyengat!". Sampai ke rumah Mak Alui kembali marah, ia kemudian menyarankan jika kemudian ditakuti dengan api agar Lebah meninggalkan sarangnya dan diambil madunya.

Hari berikutnya Pak Alui kembali melihat jeratnya, kali ini dapat seekor rusa yang sangat besar. Tetapi Pak Alui malah membakar rusa tersebut dan memeras susu-susu Si Rusa. Karena tali penjerat sudah terbakar oleh api maka Si Rusa tersebut lari tunggang langgang ke dalam hutan. Sampai ke rumah, Mak Alui kembali marah. Ia menyarankan agar sebaiknya di tombak lalu di bunuh dan daging-dagingnya di bawa ke rumah untuk di masak.

Hari berikutnya Pak Alui datang lagi ke jeratnya tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Ketika pulang anjing-anjing Pak Alui menggonggong, Pak Alui pun langsung mengejar asal suara gonggongan tersebut. Ternyata anjing tersebut menggonggong ibu mertuanya yang sedang mengambil terung di ladang. Tanpa piki r panjang lagi Pak Alui langsung menghujamkan tombakny ke arah ibu mertuanya tersebut, lalu meninggallah dia. Pak Alui lalu membawa daging tersebut ke rumah dan di masak. Ketika makan, Pak Alui menceritakan daging yang mereka makan tersebut. Mak Alui pun marah, ia mengatakan bahwa itu adalah ibunya yang sedang mengambil terung ke ladang. Ia pun menangis dan mengatakan kuburkan lah daging ini karena ini adalah daging ibu.

Setelah beberapa hari menguburkan ibunya, hari itu Mak Alui menyuruh Pak Alui agar melihat kuburan ibunya sekalian memberikan nasi seadanya ke kuburan tersebut. Pak Alui pun pergilah ke kuburan tadi. Sampai di sana tepat di dekat kuburan sudah berdiri seekor macan. Pak Alui bukan takut atau lari tetapi malah mendekati macan dan memberikan nasi yang dibawanya karena ia menyangka mertuanya telah berubah menjadi macan.

Jumat, 07 Agustus 2026

Ketika Malam Mengajarkan Agung

 



“Lima menit lagi…”

Itulah kalimat yang selalu diucapkan Agung setiap malam. Lima menit untuk menonton video, bermain gim, atau sekadar menggulir layar gawai. Namun, lima menit sering berubah menjadi satu jam.

Fida dan Rendi sudah berkali-kali mengingatkannya.

“Gung, tidur cepat itu kebiasaan anak Indonesia hebat,” kata Fida.

Agung hanya terkekeh. “Aku kuat kok. Besok juga bisa bangun.”

Malam itu, Agung kembali tidur hampir tengah malam.

Pagi harinya, bel sekolah terdengar nyaring. Fida dan Rendi sudah duduk rapi ketika Agung datang dengan langkah gontai. Matanya sembap. Ia menguap berkali-kali.

Pelajaran dimulai. Guru memberikan tugas kelompok yang harus diselesaikan hari itu. Fida dan Rendi berdiskusi dengan penuh semangat. Agung berusaha mengikuti, tetapi pikirannya terasa berkabut. Ia salah menuliskan jawaban dan beberapa kali hampir tertidur.

Ketika guru memeriksa hasil pekerjaan mereka, Agung menunduk.

“Maaf, teman-teman. Aku membuat kelompok kita terlambat.”

Fida tersenyum. “Tidak apa-apa. Tapi kamu harus mulai menjaga waktumu.”

Dalam perjalanan pulang, Agung merenung. Ia baru menyadari bahwa malam yang ia habiskan untuk bermain ternyata mengambil sesuatu dari hari berikutnya: tenaga, konsentrasi, semangat, bahkan kesempatan untuk memberikan yang terbaik.

Malam itu, Agung memandang gawainya cukup lama.

Kemudian ia mematikannya.

Ia menyiapkan buku untuk esok hari, mencuci kaki, berdoa, lalu memadamkan lampu.

“Selamat malam,” bisiknya.

Pagi berikutnya, Agung membuka mata dengan tubuh yang terasa lebih ringan. Ia tersenyum melihat cahaya matahari menyelinap melalui jendela.

Kini ia mengerti.

Menjadi anak hebat bukan hanya tentang berani bermimpi, tetapi juga tentang tahu kapan harus berhenti dan memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat.

Sejak hari itu, Agung tidak lagi takut kehilangan waktu karena tidur lebih awal.

Ia justru takut kehilangan masa depan karena terlalu sering mengorbankan waktu tidurnya.

Kamis, 06 Agustus 2026

ASAL USUL DANAU TOBA

```html

Kisah Asal-Usul Danau Toba

Pembelajaran melalui Cerita Rakyat

👤 Identitas Siswa

Kisah Asal-Usul Danau Toba

📖 Cerita Lengkap

Di suatu daerah di Sumatera Utara, hiduplah seorang pemuda. Suatu hari ia pergi memancing. Setelah cukup lama ia melemparkan pancing, tak seekor ikan pun yang menyentuh umpannya.

Pemuda itu mencoba sekali melemparkan pancingnya agak ke tengah sungai. Tiba-tiba seekor ikan menyambarnya. Dengan susah payah pemuda itu menarik pancingnya hingga tampaklah seekor ikan besar tergantung di ujung tali pancingnya.

Dengan senang hati ia bergegas pulang ke rumah dan langsung membawa ikan itu ke dapur. Ketika hendak memanggang ikan itu, ternyata persediaan kayu bakar telah habis. Ia menuju kamar untuk mengambil persediaan kayu bakar.

Saat kembali ke dapur, ikannya lenyap dan berganti dengan beberapa keping uang emas. Dengan perasaan bingung, pemuda itu mengambil kepingan uang emas itu dan hendak menyimpannya di kamar.

Betapa terkejutnya saat membuka pintu kamar, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik yang ternyata adalah jelmaan dari ikan tadi. Gadis itu meminta untuk diperbolehkan tinggal di rumah itu.

Akhirnya, mereka pun menikah dengan syarat sang pemuda bersumpah tidak akan pernah mengungkit asal-usulnya.

Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Suatu hari, ibunya menyuruh anak itu mengantarkan bungkusan nasi dan ikan panggang untuk ayahnya di ladang.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba anak itu merasa lapar. Ia pun berhenti dan memakan sebagian isinya. Sesampainya di ladang, ia segera menyerahkan bungkusan itu kepada ayahnya.

Sang ayah pun murka melihat isinya. Ia murka sambil berkata, "Dasar anak keturunan ikan!"

Anak itu pun pulang dan mengadukan kejadian itu pada ibunya. Sang ibu pun sedih. Seketika itu pula sang ibu menyuruh anaknya agar naik ke puncak bukit dan ia sendiri segera berlari menuju ke sungai.

Saat ia berada di tepi sungai, cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Langit bergemuruh disusul petir menyambar-nyambar disertai hujan yang sangat deras.

Pada saat itulah, sang ibu segera melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Dalam sekejap, sungai itu banjir, menyebabkan genangan air yang luas dan akhirnya berubah menjadi sebuah danau yang sangat besar.

Oleh masyarakat setempat, danau itu dinamakan Danau Toba.

Sumber: Brain Academy

✏️ Pemahaman Cerita

Jawablah kelima pertanyaan berikut berdasarkan cerita.

1. Tokoh

Siapa saja tokoh yang terdapat dalam cerita "Kisah Asal-Usul Danau Toba"?

2. Ide Utama

Apa ide utama atau inti cerita "Kisah Asal-Usul Danau Toba"?

3. Pesan yang Disampaikan

Apa pesan yang disampaikan oleh cerita tersebut kepada pembaca?

4. Hikmah dari Cerita

Apa hikmah atau pelajaran yang dapat kamu ambil dari cerita tersebut?

5. Kosakata Baru

Tuliskan kosakata baru yang kamu temukan dalam cerita beserta artinya.

```

Dandan dan Intan Tarsileh, Cerita Rakyat dari Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara



Syahdan, pada suatu masa di Pulau Maya, ketika hutan bakau masih memeluk muara dan ombak berkejaran menuju tanjung, hiduplah sepasang suami istri yang menjadi buah tutur masyarakat kampung. Pemuda itu bernama Dandan, seorang nelayan yang tangguh sekaligus petani yang rajin. Istrinya, Intan Tarsileh, adalah perempuan Melayu yang dikenal santun, tekun, dan berhati bening laksana embun pagi.

Setiap fajar menyingsing, Dandan mengayuh biduk menyusuri muara sambil menebar pukat, sedangkan Intan Tarsileh menanam padi, menjemur ikan, dan menunggu suaminya di pelantar rumah panggung mereka. Hidup mereka memang sederhana, tetapi penuh kasih sayang. Orang-orang tua di kampung sering berkata, "Harta boleh sedikit, asal hati tidak sempit."

Suatu hari, Raja Sabrande datang berkunjung ke kampung bersama para pengawalnya. Ketika melintasi laman rumah Dandan, pandangannya terpaku kepada Intan Tarsileh yang sedang menjemur padi. Kecantikannya membuat hati sang raja dipenuhi nafsu dan keserakahan. Sejak saat itu, ia bertekad memiliki Intan Tarsileh, walaupun mengetahui perempuan itu telah bersuami.

Di balai kampung, Datok penghulu menasihati sang raja agar tidak merampas hak orang lain. Namun, Sabrande mengabaikan petuah itu. Baginya, kekuasaan adalah jalan untuk memperoleh apa pun yang diinginkan.

Beberapa hari kemudian, Sabrande memanggil Dandan ke istana. Dengan tipu muslihat, ia menuduh Dandan telah menggelapkan upeti kerajaan. Tanpa memberi kesempatan membela diri, Dandan diperintahkan meninggalkan Pulau Maya. Sebelum berangkat, ia menggenggam tangan istrinya.

"Wahai Intan Tarsileh, jagalah kehormatan kita. Selama napasku masih ada, kasihku takkan berpaling."

Dengan mata berkaca-kaca, Intan Tarsileh menjawab, "Abang, kasih yang dibina dengan kejujuran tidak akan roboh diterpa badai."

Hari-hari berlalu. Raja Sabrande berkali-kali datang membujuk Intan Tarsileh dengan emas, kain sutra, dan perhiasan. Namun semuanya ditolak dengan sopan. Baginya, kesetiaan lebih berharga daripada kemewahan. Ia lebih memilih menunggu di pelantar rumah, memandang laut setiap senja sambil berharap suaminya kembali.

Sementara itu, Dandan merantau ke kampung seberang. Berkat kejujuran dan kegigihannya, ia membantu para nelayan menyelamatkan banyak biduk ketika badai besar melanda. Kabar keberaniannya sampai kepada para pembesar kerajaan. Mereka pun menyelidiki tuduhan terhadap Dandan dan akhirnya menemukan bahwa semua itu hanyalah fitnah yang disusun Raja Sabrande demi memenuhi hawa nafsunya.

Malu atas perbuatannya, Raja Sabrande kehilangan penghormatan rakyat. Datok bersama para tetua menjatuhkan hukuman adat kepadanya karena telah menyalahgunakan kuasa dan mencederai marwah masyarakat Melayu.

Ketika Dandan kembali ke Pulau Maya, suara serunai mengalun mengiringi penyambutannya. Intan Tarsileh menyongsong suaminya dengan senyum haru, sementara seluruh kampung bersyukur melihat keduanya dipersatukan kembali.

Sejak saat itu, masyarakat Pulau Maya mewariskan kisah Dandan dan Intan Tarsileh kepada anak cucu sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan kehinaan, sedangkan kesetiaan, kejujuran, dan kesabaran akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan.

(Ditulis ulang berdasarkan cerita lisan yang disampaikan secara turun temurun oleh orang-orang tua di kecamatan Pulau Maya)

Nyanyian Sang Fajar

 


Kala fajar membuka tirai langit,
Mentari tersenyum mengusir gelap.
Embun berkilau di ujung rumput,
Menyapa jiwa yang bangun penuh harap.

Pagi mengajarkan arti kehidupan,
Bahwa waktu adalah anugerah berharga.
Setiap langkah yang dimulai lebih awal,
Menjadi benih bagi mimpi yang menyala.

Burung-burung bernyanyi tanpa lelah,
Mengiringi semangat yang terus tumbuh.
Bangun pagi menumbuhkan disiplin,
Menguatkan tekad, meneguhkan langkah yang utuh.

Namun mereka yang terlena dalam tidur panjang,
Sering kehilangan sapaan cahaya pertama.
Kesempatan berlalu tanpa menunggu,
Meninggalkan penyesalan yang datang kemudian.

Maka sambutlah pagi dengan senyuman,
Syukuri setiap detik yang Tuhan beri.
Sebab mentari selalu setia menunggu,
Bagi mereka yang berani memulai hari.

Mentari yang Menunggu

    Mentari baru saja menyapa ketika Pak Arif membuka jendela rumah. "Ayo bangun, Nak. Pagi membawa banyak kesempatan," ujarnya lembut. Bu Rina telah menyiapkan sarapan hangat, sementara Dinda segera merapikan tempat tidurnya. Berbeda dengan adiknya, Raka masih menarik selimut dan enggan membuka mata.

Dinda membantu ibunya menyiram tanaman sebelum berangkat ke sekolah. Udara segar membuatnya bersemangat. Pak Arif mengajak mereka menikmati matahari pagi sambil berbincang tentang rencana hari itu. Suasana rumah terasa hangat dan penuh tawa.

    Tak lama kemudian, Raka terbangun. Ia terburu-buru mengenakan seragam karena waktu hampir habis. Sarapan hanya disentuh sedikit, buku pelajaran tertinggal di meja, dan ia berangkat dengan wajah murung. Sepanjang hari, Raka merasa sulit berkonsentrasi dan kehilangan kesempatan mengikuti latihan membaca yang disukainya.

    Sore harinya, Pak Arif tidak memarahi Raka. Ia hanya tersenyum sambil berkata, "Bangun pagi bukan sekadar soal waktu, tetapi tentang menghargai kesempatan." Raka mengangguk pelan. Keesokan harinya, ia bangun lebih awal bersama keluarganya. Ia sempat membantu menyapu halaman, sarapan dengan tenang, lalu berangkat ke sekolah dengan senyum cerah. Sejak saat itu, Raka menyadari bahwa pagi yang dimulai lebih awal membuat harinya terasa lebih ringan, lebih tertata, dan penuh peluang yang tak ingin ia lewatkan lagi.

(sumber : chatgpt)

Rabu, 05 Agustus 2026

Team Teaching (Pengertian, Jenis, Aspek dan Tahapan)

Team teaching adalah suatu sistem dan metode mengajar yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam pengelolaan proses pembelajaran sesuai dengan peran dan tanggung jawab yang jelas dan seimbang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Team Teaching dilaksanakan dengan tujuan untuk membantu siswa agar lebih lancar dalam proses belajarnya dan meningkatkan kerja sama antar guru sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing.

Team Teaching (Pengertian, Jenis, Aspek dan Tahapan)

Team teaching merupakan metode mengajar yang dilakukan oleh lebih dari satu atau dua orang guru yang saling berkolaborasi dalam melaksanakan proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap siswa secara bersama-sama. Melalui team teaching, beban guru menjadi lebih ringan karena masing-masing guru memiliki tanggung jawab bersama terhadap tugas dan perannya.

Team teaching adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dimana dua orang atau lebih bekerja sama untuk mengajar kelompok siswa/kelas tertentu. Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Tujuan dari pelaksanaan team teaching adalah mengajar dengan lebih maksimal kepada peserta didik dengan lebih memberi kesempatan para peserta didik dalam mendapatkan perhatian yang cukup dari guru yang mengajar.

Pengertian Team Teaching 

Berikut definisi dan pengertian team teaching dari beberapa sumber buku dan referensi:

  • Menurut Ramayulis (2005), team teaching adalah suatu sistem mengajar yang dilakukan oleh dua orang guru atau lebih dan mengajar sejumlah peserta didik yang mempunyai perbedaan minat, kemampuan atau tingkat kelas. 
  • Menurut Sabirin (2008), team teaching adalah salah satu pembelajaran yang melibatkan dua orang guru atau lebih dalam pengelolaan proses pembelajaran dengan pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang. 
  • Menurut Ahmadi (1997), team teaching adalah metode mengajar dengan cara menyajikan bahan pelajaran dilakukan bersama oleh dua orang atau lebih kepada kelompok pelajar untuk mencapai tujuan pengajaran. 
  • Menurut Martiningsih (2007), team teaching adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. 
  • Menurut Majid (2014), team teaching adalah metode mengajar dengan dua orang guru atau lebih bekerja sama mengajar sebuah kelompok siswa.

Jenis-jenis Team Teaching 

Menurut Soewalni (2007), strategi pembelajaran team teaching terdiri dari dua jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Semi Team Teaching 

Semi team teaching memiliki tiga jenis varian, yaitu:

  1. Sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas yang berbeda, perencanaan materi dan metode disepakati bersama. 
  2. Satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru secara bergantian dengan pembagian tugas. Materi dan evaluasi dengan guru masing-masing. 
  3. Satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan mendesain siswa secara berkelompok.

b. Team Teaching Penuh 

Satu tim terdiri dari dua orang guru atau lebih, waktu kelas sama, pembelajaran mata pelajaran atau materi tertentu, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi secara bersama dan sepakat. Adapun variasi dari team teaching penuh yaitu:

  1. Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi kelompok atau membimbing latihan individual. 
  2. Anggota team secara bergantian menyajikan topik atau materi. Diskusi atau Tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi jawaban dari anggota tim. 
  3. Seorang guru (senior) menyajikan langkah latihan, observasi, praktik dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok, setiap kelompok dipandu seorang guru (tutor) Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan lapangan (lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.

Sedangkan menurut Asmani (2010), terdapat beberapa model dalam pelaksanaan team teaching di kelas. Guru dapat menggunakan lebih dari satu model tergantung dengan situasi belajar di kelas. Model-model team teaching tersebut adalah sebagai berikut:

a. Supported Instruction 

Supported instruction adalah bentuk team teaching dengan salah satu guru menyampaikan materi pelajaran. Sedangkan guru lainnya melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan rekan satu timnya tersebut. Tindak lanjut yang dilakukan misalnya membimbing siswa dalam mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh guru. Sehingga sesama guru saling mendukung dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran.

b. Parallel Instruction 

Parallel instruction adalah bentuk team teaching yang pelaksanaannya dengan membagi siswa menjadi dua kelompok. Kemudian masing-masing guru dalam team teaching bertanggung jawab untuk mengajar setiap kelompok yang sudah dibagi tersebut.

c. Differentiated Split Class 

Differentiated split class adalah team teaching yang dilaksanakan dengan cara membagi siswa menjadi dua kelompok berdasarkan tingkat pencapaian kompetensinya. Kemudian, salah satu guru melakukan pengajaran remedial terhadap siswa yang tingkat pencapaian kompetensinya kurang atau tidak mencapai KKM. Sedangkan guru yang lain melakukan pengayaan kepada mereka yang telah mencapai atau melampaui standar minimal KKM.

d. Monitoring Teacher 

Monitoring teacher adalah bentuk team teaching model lain dari team teaching. Model ini dilaksanakan dengan cara yaitu salah satu guru melakukan pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya berkeliling untuk memonitoring dan mengawasi perilaku dan kemajuan siswa.

Aspek-aspek Team Teaching 

Team Teaching adalah sebuah pendekatan mengajar yang melibatkan kerja sama tim dalam merencanakan, merancang dan membagi tanggung jawab selama proses pembelajaran. Menurut Engkaswara (2003), aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan team teaching adalah sebagai berikut:

  1. Setiap anggota tim mempunyai pengertian dan pandangan yang searah tentang pengajaran yang akan dilakukannya. 
  2. Cukup fasilitas yang diperlukan (ruangan, alat pelajaran) untuk kelompok-kelompok siswa. 
  3. Masing-masing anggota tim mengambil bagian sesuai dengan minat dan kecakapannya dalam rangka keseluruhan pendidikan. 
  4. Waktu tim bekerja diatur sebaik-baiknya sehingga tiap anggota mempunyai waktu yang cukup dan memungkinkan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan di antara tim. 
  5. Tim dapat mengelompokkan siswa-siswa menurut minat dan kemampuannya masing-masing. 
  6. Tugas-tugas yang harus diselesaikan siswa jangan terlalu sukar, tetapi harus menarik dan mendorong siswa-siswa belajar dan menyelesaikannya.

Selain itu menurut Asmani (2010), beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru agar metode team teaching bisa terlaksana dengan baik adalah sebagai berikut: 

  1. Memiliki kemauan dan komitmen dalam team teaching, bukan terpaksa. 
  2. Menyadari keterbatasan (pengetahuan, waktu, komunikasi) pada diri masing-masing. 
  3. Mau memberikan kepercayaan kepada orang lain, dan memegang kepercayaan orang lain (saling percaya) 
  4. Mau bekerja sama dalam satu tim. 
  5. Memiliki pribadi yang sehat, terbuka, tidak emosional, dan tidak putus asa.
  6. Mampu berkomunikasi secara efektif. 
  7. Mampu mengembangkan bidang keahlian atau bidang yang diampu.

Langkah-langkah Team Teaching 

Menurut Asmani (2010), langkah-langkah atau tahapan pembelajaran menggunakan metode team teaching adalah sebagai berikut:

a. Tahap Awal 

  1. Perencanaan pembelajaran disusun secara bersama. Perencanaan Pembelajaran atau yang saat ini lebih populer dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus disusun secara bersama-sama oleh setiap guru yang tergabung dalam team teaching. Agar setiap guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang apa-apa yang terkait dalam isi RPP tersebut, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang harus diraih oleh siswa dari proses pembelajaran, sampai kepada sistem penilaian hasil evaluasi siswa. 
  2. Metode pembelajaran disusun bersama Selain RPP yang harus disusun bersama oleh tim, metode yang akan digunakan oleh mereka dalam proses pembelajaran team teaching pun harus direncanakan bersama-sama oleh anggota team teaching. Perencanaan metode secara bersama ini dilakukan agar setiap guru team teaching mengatur alur proses pembelajaran dan tidak kehilangan arah pembelajaran. 
  3. Partner team teaching memahami materi dan isi pembelajaran Guru sebagai partner dalam team teaching bukan hanya harus mengetahui dan memahami isi dari materi pelajaran tersebut. Hal ini agar kesannya bisa saling melengkapi kekurangan pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing, terutama ini dapat dirasakan manfaatnya dalam penyampaian materi pada siswa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa atas penjelasan guru. 
  4. Pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dalam team teaching. Pembagian peran dan tanggung jawab masing-masing guru harus dibicarakan secara jelas ketika merencanakan proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas, mereka tahu peran dan tugasnya masing-masing.

b. Tahap Inti 

Tahap inti merupakan tahap pelaksanaan metode team teaching. Dalam pelaksanaan metode team teaching, guru yang tergabung haruslah kompak dan tidak mementingkan diri sendiri. Mereka harus saling bekerja sama, dan mendiskusikan pembelajaran, mulai dalam hal penyusunan silabus, pengembangan RPP, pemilihan materi ajar, penentuan atau pembuatan media pembelajaran yang efektif, penentuan metode pembelajaran yang cocok untuk materi yang disepakati, serta penyusunan penilaian untuk proses pembelajaran maupun hasil belajar. Adapun beberapa hal yang dilakukan dalam tahap inti adalah: 

  1. Salah satu guru bertugas sebagai pemateri dalam dua jam pelajaran penuh. Sedangkan satu guru yang lainnya bertugas sebagai pengawas dan pembantu tim. 
  2. Beberapa orang guru bergantian sebagai pemateri dalam dua jam pelajaran penuh di kelas. 
  3. Beberapa guru bertugas sebagai pemateri dengan jam pelajaran yang sudah dibagi sesuai dengan jumlah guru.

c. Tahap Evaluasi 

  1. Evaluasi Guru. Selama proses pembelajaran dilakukan oleh partner tim setelah jam pelajaran berakhir. Evaluasi dilakukan oleh masing-masing partner dengan cara memberi kritikan-kritikan dan saran yang membangun untuk perbaikan proses pembelajaran selanjutnya. Dalam hal ini, setiap guru yang diberi saran harus menerima dengan baik saran-saran tersebut, karena hakikatnya itulah kelebihan dari team teaching. Setiap guru harus merasa bahwa mereka banyak memiliki kekurangan dalam diri mereka, tidak merasa diri paling benar dan paling pintar. Evaluasi ini dilakukan di luar ruang kelas. Ini dilakukan untuk menjaga image masing-masing guru di hadapan siswa. 
  2. Evaluasi Siswa. Evaluasi siswa dalam hal ini mencakup pembuatan soal evaluasi dan merencanakan metode evaluasi, yang semuanya dilakukan secara bersama-sama oleh guru team teaching atas kesepakatan bersama guru harus membuat soal-soal evaluasi yang akan diberikan kepada siswa. Disini guru team teaching harus secara bersama-sama menentukan bentuk soal evaluasi, baik lisan ataupun tulisan, baik pilihan ganda, uraian, atau kombinasi antara keduanya. Satu hal yang tatkala pentingnya adalah dalam hal evaluasi siswa ini di dalamnya mencakup pembagian peran dan tanggung jawab setiap guru team teaching dalam pelaksanaan evaluasi.

Kelebihan dan Kekurangan Team Teaching 

Setiap metode pembelajaran biasanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitu juga dengan metode team teaching. Menurut Ramayulis (2005), kelebihan dan kekurangan metode team teaching adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan Team Teaching 

Kelebihan atau keunggulan metode team teaching adalah: 

  1. Pemahaman dan penguasaan bahan bagi anak-anak akan lebih luas dan mendalam, karena masing-masing guru memberikan tinjauan yang berbeda. 
  2. Guru dapat lebih memusatkan perhatiannya pada kegiatan belajar mengajar, khususnya pada cara penyajian bahan pelajaran agar dimengerti oleh siswa. 
  3. Tim guru dapat memperingan tugas-tugasnya. 
  4. Membina kerja sama yang harmonis di antara para guru dalam bentuk bertukar pendapat, pengalaman dan kesediaan untuk membantu semua usaha kegiatan belajar mengajar yang dihadapi sesama guru, seperti merencanakan pelajaran, cara-cara melakukan evaluasi dan bimbingannya. 
  5. Wawasan akan bertambah bagi pengajar karena banyaknya sumber informasi yang dihadirkan pada kegiatan ini. 

b. Kekurangan Team Teaching 

Kekurangan atau kelemahan metode team teaching adalah:

  1. Dapat merugikan murid, apabila anggota regu (team) tidak dapat berintegrasi menjadi satu regu yang kompak, Bila tidak ada kerja sama (koordinasi) yang baik, kurang ada toleransi atau partisipasi kelompok, apalagi bila ada anggota regu yang cenderung kerja sendiri, tidak mengenal tanggung jawab kelompok. 
  2. Kemungkinan murid dapat menilai kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh seorang guru dengan membandingkannya dengan guru yang lain, sehingga perhatian murid akan berkurang. 
  3. Pengetahuan guru dalam satu regu tidak merata. 
  4. Sukar membentuk tim yang kompak, kadang-kadang didominasi oleh pendidik-pendidik yang cakap saja dan hal ini sukar untuk dihilangkan; sangat rumit untuk mengatur organisasi kelas yang lebih fleksibel membutuhkan fasilitas ruangan, alat dan waktu yang memadai.

Daftar Pustaka

  • Ramayulis. 2005. Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
  • Ahmadi, Abu, dkk. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
  • Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Engkaswara. 2003. Dasar-dasar Metodologi Pengajaran. Jakarta: Bina aksara.
  • Soewalni, S. 2007. Team Teaching. Makalah Program Pelatihan Applied Approch 2007 di Lembaga Pendidikan UNAS.
  • Asmani, J.M. 2010. Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Jogjakarta: DIVA Press.

Senin, 23 Februari 2026

Surat Keterangan Aktif Mengajar


Surat Keterangan Aktif Mengajar merupakan dokumen resmi yang menyatakan bahwa seorang guru atau tenaga pendidik masih aktif melaksanakan tugas pembelajaran di satuan pendidikan. Surat ini biasanya dibutuhkan untuk berbagai keperluan administrasi, seperti pengajuan tunjangan, sertifikasi, studi lanjut, atau keperluan kelembagaan lainnya.

Agar memudahkan guru dan pihak sekolah, kami menyediakan contoh dan template Surat Keterangan Aktif Mengajar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. Template ini disusun dengan format formal dan mudah diedit menggunakan Microsoft Word.

Link Unduh Template

Silakan unduh template Surat Keterangan Aktif Mengajar melalui tautan berikut:
👉 Unduh Contoh Surat Keterangan Aktif Mengajar

Semoga template ini bermanfaat dan membantu mempercepat proses administrasi di sekolah. Jika ada masukan atau revisi format, silakan tinggalkan komentar pada kolom komentar.



LOKASI SMA Negeri 3 Sukadana

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA