“Lima menit lagi…”
Itulah kalimat yang selalu diucapkan Agung setiap malam. Lima menit untuk menonton video, bermain gim, atau sekadar menggulir layar gawai. Namun, lima menit sering berubah menjadi satu jam.
Fida dan Rendi sudah berkali-kali mengingatkannya.
“Gung, tidur cepat itu kebiasaan anak Indonesia hebat,” kata Fida.
Agung hanya terkekeh. “Aku kuat kok. Besok juga bisa bangun.”
Malam itu, Agung kembali tidur hampir tengah malam.
Pagi harinya, bel sekolah terdengar nyaring. Fida dan Rendi sudah duduk rapi ketika Agung datang dengan langkah gontai. Matanya sembap. Ia menguap berkali-kali.
Pelajaran dimulai. Guru memberikan tugas kelompok yang harus diselesaikan hari itu. Fida dan Rendi berdiskusi dengan penuh semangat. Agung berusaha mengikuti, tetapi pikirannya terasa berkabut. Ia salah menuliskan jawaban dan beberapa kali hampir tertidur.
Ketika guru memeriksa hasil pekerjaan mereka, Agung menunduk.
“Maaf, teman-teman. Aku membuat kelompok kita terlambat.”
Fida tersenyum. “Tidak apa-apa. Tapi kamu harus mulai menjaga waktumu.”
Dalam perjalanan pulang, Agung merenung. Ia baru menyadari bahwa malam yang ia habiskan untuk bermain ternyata mengambil sesuatu dari hari berikutnya: tenaga, konsentrasi, semangat, bahkan kesempatan untuk memberikan yang terbaik.
Malam itu, Agung memandang gawainya cukup lama.
Kemudian ia mematikannya.
Ia menyiapkan buku untuk esok hari, mencuci kaki, berdoa, lalu memadamkan lampu.
“Selamat malam,” bisiknya.
Pagi berikutnya, Agung membuka mata dengan tubuh yang terasa lebih ringan. Ia tersenyum melihat cahaya matahari menyelinap melalui jendela.
Kini ia mengerti.
Menjadi anak hebat bukan hanya tentang berani bermimpi, tetapi juga tentang tahu kapan harus berhenti dan memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat.
Sejak hari itu, Agung tidak lagi takut kehilangan waktu karena tidur lebih awal.
Ia justru takut kehilangan masa depan karena terlalu sering mengorbankan waktu tidurnya.






0 comments:
Posting Komentar