SMA NEGERI 3 SUKADANA

Selasa, 11 Agustus 2026

Saat Ujian Skripsi, Ia Menangis Teringat Ibunya

Oleh : Rosadi Jamani
            Baru kali ini saya melihat mahasiswa menangis saat ujian skripsi. Namanya Andi Amir Fahad Abdillah. Bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan penguji. Bukan karena skripsinya berantakan. Justru sejak pukul 08.30 hingga 11.30, ia mampu mempertahankan argumentasinya dengan tenang. 

             Tiga jam. Namun, ada satu pertanyaan sederhana ternyata lebih berat dari tiga jam ujian. Saya meminta Andi menceritakan perjuangannya sampai akhirnya duduk di ruang ujian. Ia terdiam. Kemudian memperlihatkan sebuah coretan kecil di dokumen skripsinya. “Doa Ibu.” Seketika wajahnya berubah. Matanya berkaca. Lalu air mata jatuh. Ia teringat petuah-petuah ibunya. Ruang ujian mendadak sunyi.             
            Kami berempat, para penguji, justru kelabakan mencari tisu. Andi tidak membawa tisu. Saputangan pun tidak punya. Untung Bu Yuni membawa tisu. Pagi itu, skripsi seolah berhenti sejenak. Yang diuji bukan lagi teori. Yang sedang diuji adalah hati seorang anak. Andi berasal dari Bangkalan, Madura. Ia merantau ke Kalimantan Barat. Meninggalkan kedua orang tuanya, terutama ibunya yang sangat menyayanginya. Untuk masa depan, ia memilih pergi. Ia mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Mansur, Kuala Dua, Kubu Raya. Alumni Pondok Pesantren Al-Amin, Sumenep, ini juga pernah belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri. Di Al-Mansur, ia mengajar bahasa Inggris sambil kuliah S1. 

            Masalahnya sederhana, tetapi menyakitkan, uang mengajar tidak selalu cukup. Maka ia bekerja serabutan. Apa saja. Pernah menjadi tukang panjat pohon rambutan. Nuan bayangkan. Saat sebagian orang sibuk memanjat tangga karier, Andi benar-benar memanjat pohon demi membiayai kuliahnya.                    
             Namun, hidup rupanya belum selesai mengujinya. Ia pernah ingin pulang. Bahkan mengajukan mutasi ke Bangkalan. Mungkin rindu rumah sudah terlalu berat. Mungkin lelah sudah sampai ke tulang. Tetapi Kaprodi, Bu Marhamah, menahannya dengan sebuah kalimat yang kemudian menjadi penyelamat, “Kamu memulainya di sini, harus berakhir di sini juga.” Andi akhirnya bertahan. Ia kembali kuliah. Mengajar. Bekerja. Mengerjakan penelitian. Menulis skripsi. Menangis diam-diam. Lalu pagi tadi, ia berdiri di hadapan empat penguji. Skripsi berjudul, “Evaluasi Program Kebahasaan Bilingual sebagai Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Al-Mansyur Islamic Boarding School.” Tiga jam ia bertarung dengan teori, data, pertanyaan, dan argumentasi. Ia menang. Lulus. Tetapi kemenangan itu justru dibayar dengan air mata. Sebagai pembimbing, saya ikut bangga.                 
            Bukan sekadar karena mahasiswa bimbingan saya selesai. Saya bangga karena tahu, di balik puluhan halaman skripsi itu ada seorang anak pernah memanjat pohon rambutan untuk membiayai mimpinya. Ada seorang anak pernah ingin menyerah. Ada seorang anak meninggalkan ibunya demi masa depan.

             Ada seorang ibu mungkin setiap malam hanya punya satu senjata, doa. Sebelum berpisah, saya berkata kepadanya, “Setelah ini, cepat kasih tahu ibumu bahwa Andi sudah selesai.” Ia menjawab, “Siap.” Entah bagaimana suara ibunya nanti. Mungkin akan tertawa. Mungkin akan menangis. Mungkin justru lama terdiam. Sebab seorang ibu tidak selalu menghitung berapa halaman skripsi anaknya. Ia hanya tahu, anak yang dulu dilepas dengan air mata, hari ini pulang membawa kabar, perjuangannya tidak sia-sia.
 
            Hari itu Andi lulus ujian. Tetapi sesungguhnya, yang lulus bukan hanya Andi. Yang lulus adalah doa seorang ibu. Kalau kampus punya transkrip untuk cinta, pengorbanan, air mata, dan doa ibu, mungkin nilainya tidak cukup ditulis dengan A. Sebab ada perjuangan tidak bisa diberi nilai, hanya bisa dikenang sambil menahan air mata. 


 sumber : https://www.facebook.com/share/p/1EZx3WFtd4/

0 comments:

Posting Komentar

LOKASI SMA Negeri 3 Sukadana

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA