Syahdan, pada suatu masa di Pulau Maya, ketika hutan bakau masih memeluk muara dan ombak berkejaran menuju tanjung, hiduplah sepasang suami istri yang menjadi buah tutur masyarakat kampung. Pemuda itu bernama Dandan, seorang nelayan yang tangguh sekaligus petani yang rajin. Istrinya, Intan Tarsileh, adalah perempuan Melayu yang dikenal santun, tekun, dan berhati bening laksana embun pagi.
Setiap fajar menyingsing, Dandan mengayuh biduk menyusuri muara sambil menebar pukat, sedangkan Intan Tarsileh menanam padi, menjemur ikan, dan menunggu suaminya di pelantar rumah panggung mereka. Hidup mereka memang sederhana, tetapi penuh kasih sayang. Orang-orang tua di kampung sering berkata, "Harta boleh sedikit, asal hati tidak sempit."
Suatu hari, Raja Sabrande datang berkunjung ke kampung bersama para pengawalnya. Ketika melintasi laman rumah Dandan, pandangannya terpaku kepada Intan Tarsileh yang sedang menjemur padi. Kecantikannya membuat hati sang raja dipenuhi nafsu dan keserakahan. Sejak saat itu, ia bertekad memiliki Intan Tarsileh, walaupun mengetahui perempuan itu telah bersuami.
Di balai kampung, Datok penghulu menasihati sang raja agar tidak merampas hak orang lain. Namun, Sabrande mengabaikan petuah itu. Baginya, kekuasaan adalah jalan untuk memperoleh apa pun yang diinginkan.
Beberapa hari kemudian, Sabrande memanggil Dandan ke istana. Dengan tipu muslihat, ia menuduh Dandan telah menggelapkan upeti kerajaan. Tanpa memberi kesempatan membela diri, Dandan diperintahkan meninggalkan Pulau Maya. Sebelum berangkat, ia menggenggam tangan istrinya.
"Wahai Intan Tarsileh, jagalah kehormatan kita. Selama napasku masih ada, kasihku takkan berpaling."
Dengan mata berkaca-kaca, Intan Tarsileh menjawab, "Abang, kasih yang dibina dengan kejujuran tidak akan roboh diterpa badai."
Hari-hari berlalu. Raja Sabrande berkali-kali datang membujuk Intan Tarsileh dengan emas, kain sutra, dan perhiasan. Namun semuanya ditolak dengan sopan. Baginya, kesetiaan lebih berharga daripada kemewahan. Ia lebih memilih menunggu di pelantar rumah, memandang laut setiap senja sambil berharap suaminya kembali.
Sementara itu, Dandan merantau ke kampung seberang. Berkat kejujuran dan kegigihannya, ia membantu para nelayan menyelamatkan banyak biduk ketika badai besar melanda. Kabar keberaniannya sampai kepada para pembesar kerajaan. Mereka pun menyelidiki tuduhan terhadap Dandan dan akhirnya menemukan bahwa semua itu hanyalah fitnah yang disusun Raja Sabrande demi memenuhi hawa nafsunya.
Malu atas perbuatannya, Raja Sabrande kehilangan penghormatan rakyat. Datok bersama para tetua menjatuhkan hukuman adat kepadanya karena telah menyalahgunakan kuasa dan mencederai marwah masyarakat Melayu.
Ketika Dandan kembali ke Pulau Maya, suara serunai mengalun mengiringi penyambutannya. Intan Tarsileh menyongsong suaminya dengan senyum haru, sementara seluruh kampung bersyukur melihat keduanya dipersatukan kembali.
Sejak saat itu, masyarakat Pulau Maya mewariskan kisah Dandan dan Intan Tarsileh kepada anak cucu sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan kehinaan, sedangkan kesetiaan, kejujuran, dan kesabaran akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan.
(Ditulis ulang berdasarkan cerita lisan yang disampaikan secara turun temurun oleh orang-orang tua di kecamatan Pulau Maya)






0 comments:
Posting Komentar