GURU SMAN 3 SUKADANA

Kepala Sekolah, Guru, beserta Staf di SMA Negeri 3 Sukadana Tahun Pelajaran 2021/2022

GURU SMAN 3 SUKADANA

Kepala Sekolah, Guru, beserta Staf di SMA Negeri 3 Sukadana Tahun Pelajaran 2018/2019

PPK SMAN 3 SUKADANA

Gerakan Mencium Tangan Orang Tua Sebelum Berangkat dan Setelah Pulang Sekolah

HINDARI NARKOBA

NARKOBA, Membunuh Anak Negeri, Memusnahkan Generasi

STRUKTUR ORGANISASI SMAN 3 SUKADANA

Tahun Pelajaran 2017/2018

VISI MISI

Visi dan Misi SMA Negeri 3 Sukadana

GURU SMAN 3 SUKADANA

Kepala Sekolah, Guru, beserta Staf di SMA Negeri 3 Sukadana Tahun Pelajaran 2022/2023

PERINGATAN HUT KE-77 REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2022

Dewan guru SMA Negeri 3 Sukadana pada saat Peringatan HUT RI 2022

PERESMIAN SMAN 3 SUKADANA

Dewan guru bersama Siswa-siswi SMA Negeri 3 Sukadana pada saat Peresmian di Teluk Batang

SMA NEGERI 3 SUKADANA

Senin, 31 Agustus 2026

Misi Ion - Komik Interaktif Kimia

⚡ MISI ION

Petualangan Mengungkap Rahasia Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

🎮 LEVEL
1
⭐ XP
0
🎯 EPISODE
1/8
PART 1 — AWAL PETUALANGAN

🌌 Dunia Larutan Memanggil

👦🏻

RAKA

Siswa yang penasaran tetapi sering menganggap kimia sebagai hafalan.

👩🏻‍🔬

NAYA

Partner cerdas yang percaya bahwa kimia harus ditemukan melalui eksperimen.

RAKA:
"Elektrolit... nonelektrolit... ionisasi... kenapa harus menghafal semuanya?"
NAYA:
"Siapa bilang kita harus menghafalnya?"
⚠ SYSTEM ALERT
Sebuah gangguan terjadi di Laboratorium Digital.

Hanya seorang Kimiawan yang memahami RAHASIA ION yang dapat memperbaikinya.
RAKA:
"Jadi... kita belajar kimia sambil menjalankan misi?"
NAYA:
"Benar. Selamat datang di Dunia Larutan!"
PART 2 — MISTERI AIR

💧 Apa yang Terjadi Saat Zat Dilarutkan?

NAYA:
"Lihat dua benda ini!"
🧂
NaCl

Garam

🍬
Gula

C₁₂H₂₂O₁₁

RAKA:
"Keduanya bisa larut dalam air. Berarti keduanya pasti sama, kan?"
NAYA:
"Belum tentu. Justru di sinilah misterinya!"
🔍 SCAN PARTIKEL
NaCl:
NaCl → Na⁺ + Cl⁻

Gula:
C₁₂H₂₂O₁₁ tetap sebagai molekul. Tidak berubah menjadi ion.
🔑 PETUNJUK:
Kunci pertama misi ini adalah ION. Jika suatu zat menghasilkan ion dalam air, larutannya berpotensi menghantarkan listrik.
PART 3 — UJI KONDUKTIVITAS

⚡ Tantangan Lampu

PROF. ION:
"Jika kalian ingin mengetahui apakah larutan dapat menghantarkan listrik, jangan menebak."
RAKA:
"Lalu?"
PROF. ION:
"UJI!"
⚡ ALAT UJI KONDUKTIVITAS
🔋 Baterai → 💡 Lampu → 🧪 Larutan

💡 Nyala terang → banyak ion bergerak
💡 Nyala redup → ion lebih sedikit
⚫ Tidak menyala → tidak ada ion bebas yang cukup untuk menghantarkan listrik

🎯 TANTANGAN 1

Sebuah larutan membuat lampu menyala terang. Apa kemungkinan terbesar yang terjadi di dalam larutan?

PART 4 — EMPAT TERSANGKA

🕵️ Siapa Elektrolit?

Empat larutan masuk ke ruang pemeriksaan. Tugas Raka dan Naya adalah menemukan identitas mereka.

🧂
A

NaCl

🍬
B

Gula

🥤
C

CH₃COOH

🧪
D

HCl

RAKA:
"Aku akan langsung menebak berdasarkan namanya!"
NAYA:
"Jangan! Gunakan bukti dari perilaku partikelnya."

🎯 TANTANGAN 2

Manakah yang tidak menghasilkan ion ketika dilarutkan dalam air?

PART 5 — KEKUATAN ION

⚡ Elektrolit Kuat vs Elektrolit Lemah

RAKA:
"Kalau sama-sama elektrolit, berarti kekuatannya sama?"
PROF. ION:
"Kesalahan fatal!"
⚔️ DUA JENIS KEKUATAN
ELEKTROLIT KUAT
Zat terionisasi hampir/nyaris seluruhnya dalam larutan sehingga menghasilkan banyak ion.

Contoh: NaCl, HCl, NaOH
ELEKTROLIT LEMAH
Zat hanya terionisasi sebagian sehingga jumlah ion yang terbentuk lebih sedikit.

Contoh: CH₃COOH
NAYA:
"Jadi nyala lampu juga bisa membantu kita membedakan kekuatan elektrolit!"

🎯 TANTANGAN 3

Larutan X menghasilkan banyak ion dan lampunya menyala terang. Larutan Y hanya menghasilkan sebagian ion dan lampunya redup. Manakah yang paling tepat?

PART 6 — SANG PENIPU

🍬 Gula: Larutan yang Menyamar

RAKA:
"Gula larut sempurna dalam air. Berarti pasti menghantarkan listrik!"
NAYA:
"Belum tentu. Lihat partikelnya."
🔬 PEMINDAI PARTIKEL
Larutan gula:

🍬 → 🍬 → 🍬 → 🍬

Molekul gula tetap sebagai molekul. Tidak menghasilkan ion seperti Na⁺ atau Cl⁻.
🧠 KESIMPULAN:
"Larut" tidak selalu berarti "terionisasi". Kemampuan menghantarkan listrik berkaitan dengan keberadaan ion yang dapat bergerak dalam larutan.

🎯 BOSS QUESTION

Mengapa larutan gula termasuk nonelektrolit?

PART 7 — FINAL BATTLE

🔥 TEBAK IDENTITAS LARUTAN

Raka dan Naya hanya memiliki satu kesempatan. Tentukan klasifikasi setiap larutan.

⚔️ LEVEL FINAL

Larutan A: menghasilkan banyak ion.

Larutan B: tidak menghasilkan ion.

Larutan C: menghasilkan sedikit ion.


Pasangkan dengan klasifikasi yang tepat.

📜 MASTER RULE
ION adalah kunci.

⚡ Banyak ion → elektrolit kuat
⚡ Sedikit/sebagian ion → elektrolit lemah
⭕ Tidak menghasilkan ion → nonelektrolit
PART 8 — QUEST COMPLETE
🏆

QUEST COMPLETE!

Raka berhasil menyelesaikan Misi Ion.

Ia akhirnya menyadari bahwa kimia bukan sekadar hafalan.

RAKA:
"Sekarang aku mengerti! Aku tidak perlu menghafal semuanya. Aku cukup memahami apa yang terjadi pada partikelnya."
NAYA:
"Benar. Saat kamu memahami ion, kamu bisa menjelaskan perilaku larutan."

🧠 RANGKUMAN MASTER

ELEKTROLIT
Larutan yang mengandung ion sehingga dapat menghantarkan arus listrik.

ELEKTROLIT KUAT
Ion terbentuk dalam jumlah besar karena ionisasi/disosiasi berlangsung hampir seluruhnya.

ELEKTROLIT LEMAH
Hanya sebagian zat menghasilkan ion.

NONELEKTROLIT
Tidak menghasilkan ion dalam larutan, sehingga tidak menghantarkan arus listrik.
🔓 NEXT MISSION UNLOCKED

🌡️ SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

"Jika jumlah partikel menentukan perilaku larutan, apa yang terjadi pada titik didih dan titik bekunya?"

Kamis, 27 Agustus 2026

Game SPU

```html Chronicles of SPU V2

PANDUAN ELEMENT SEEKER

1. Tentukan BLOK

Lihat subkulit tempat elektron pembeda berada.

s → blok s    p → blok p    d → blok d    f → blok f

2. Tentukan PERIODE

Cari nilai n terbesar pada konfigurasi elektron.

3. Tentukan GOLONGAN TRANSISI

Untuk unsur transisi blok d, jumlahkan elektron pada subkulit d dan s.

(n−1)d + ns

4. TRANSISI DALAM

Jika elektron pembeda berada pada subkulit 4f, unsur termasuk lantanida.

Jika elektron pembeda berada pada subkulit 5f, unsur termasuk aktinida.

PERIODIC REALM
LEVEL 1
XP 0
HP 100
COMBO 0

PETA PETUALANGAN

LEVEL 01
E

Desa Elektron

Mengenali elektron pembeda.

LEVEL 02
B

Gerbang Blok

Menentukan blok s, p, d, dan f.

LEVEL 03
P

Menara Periode

Menentukan periode unsur.

LEVEL 04
D

D-Block Dungeon

Memasuki dunia transisi.

LEVEL 05
T

Arena Transisi

Menentukan golongan d-block.

LEVEL 06
F

F-Block Forest

Mengenali blok f.

LEVEL 07
L

Lantanida Tower

Menaklukkan lantanida.

LEVEL 08
A

Aktinida Abyss

Menaklukkan aktinida.

LEVEL 09
C

Chaos Element

Soal campuran.

FINAL
X

Periodic Overlord

Boss terakhir.

LEVEL
ELEMENT SEEKER
ES
HP

100 / 100

PERTANYAAN 1
Tentukan koordinat unsur!

Pertanyaan

[Ar] 3d5 4s2
CHAOS ELEMENT
CE
ENEMY HP

100 / 100

WIN

MISSION COMPLETE

Wilayah berhasil ditaklukkan.

XP 0
BENAR 0
SALAH 0
AKURASI 0%

ACHIEVEMENTS

```

Senin, 24 Agustus 2026

Selasa, 11 Agustus 2026

Saat Ujian Skripsi, Ia Menangis Teringat Ibunya

Oleh : Rosadi Jamani
            Baru kali ini saya melihat mahasiswa menangis saat ujian skripsi. Namanya Andi Amir Fahad Abdillah. Bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan penguji. Bukan karena skripsinya berantakan. Justru sejak pukul 08.30 hingga 11.30, ia mampu mempertahankan argumentasinya dengan tenang. 

             Tiga jam. Namun, ada satu pertanyaan sederhana ternyata lebih berat dari tiga jam ujian. Saya meminta Andi menceritakan perjuangannya sampai akhirnya duduk di ruang ujian. Ia terdiam. Kemudian memperlihatkan sebuah coretan kecil di dokumen skripsinya. “Doa Ibu.” Seketika wajahnya berubah. Matanya berkaca. Lalu air mata jatuh. Ia teringat petuah-petuah ibunya. Ruang ujian mendadak sunyi.             
            Kami berempat, para penguji, justru kelabakan mencari tisu. Andi tidak membawa tisu. Saputangan pun tidak punya. Untung Bu Yuni membawa tisu. Pagi itu, skripsi seolah berhenti sejenak. Yang diuji bukan lagi teori. Yang sedang diuji adalah hati seorang anak. Andi berasal dari Bangkalan, Madura. Ia merantau ke Kalimantan Barat. Meninggalkan kedua orang tuanya, terutama ibunya yang sangat menyayanginya. Untuk masa depan, ia memilih pergi. Ia mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Mansur, Kuala Dua, Kubu Raya. Alumni Pondok Pesantren Al-Amin, Sumenep, ini juga pernah belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri. Di Al-Mansur, ia mengajar bahasa Inggris sambil kuliah S1. 

            Masalahnya sederhana, tetapi menyakitkan, uang mengajar tidak selalu cukup. Maka ia bekerja serabutan. Apa saja. Pernah menjadi tukang panjat pohon rambutan. Nuan bayangkan. Saat sebagian orang sibuk memanjat tangga karier, Andi benar-benar memanjat pohon demi membiayai kuliahnya.                    
             Namun, hidup rupanya belum selesai mengujinya. Ia pernah ingin pulang. Bahkan mengajukan mutasi ke Bangkalan. Mungkin rindu rumah sudah terlalu berat. Mungkin lelah sudah sampai ke tulang. Tetapi Kaprodi, Bu Marhamah, menahannya dengan sebuah kalimat yang kemudian menjadi penyelamat, “Kamu memulainya di sini, harus berakhir di sini juga.” Andi akhirnya bertahan. Ia kembali kuliah. Mengajar. Bekerja. Mengerjakan penelitian. Menulis skripsi. Menangis diam-diam. Lalu pagi tadi, ia berdiri di hadapan empat penguji. Skripsi berjudul, “Evaluasi Program Kebahasaan Bilingual sebagai Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Al-Mansyur Islamic Boarding School.” Tiga jam ia bertarung dengan teori, data, pertanyaan, dan argumentasi. Ia menang. Lulus. Tetapi kemenangan itu justru dibayar dengan air mata. Sebagai pembimbing, saya ikut bangga.                 
            Bukan sekadar karena mahasiswa bimbingan saya selesai. Saya bangga karena tahu, di balik puluhan halaman skripsi itu ada seorang anak pernah memanjat pohon rambutan untuk membiayai mimpinya. Ada seorang anak pernah ingin menyerah. Ada seorang anak meninggalkan ibunya demi masa depan.

             Ada seorang ibu mungkin setiap malam hanya punya satu senjata, doa. Sebelum berpisah, saya berkata kepadanya, “Setelah ini, cepat kasih tahu ibumu bahwa Andi sudah selesai.” Ia menjawab, “Siap.” Entah bagaimana suara ibunya nanti. Mungkin akan tertawa. Mungkin akan menangis. Mungkin justru lama terdiam. Sebab seorang ibu tidak selalu menghitung berapa halaman skripsi anaknya. Ia hanya tahu, anak yang dulu dilepas dengan air mata, hari ini pulang membawa kabar, perjuangannya tidak sia-sia.
 
            Hari itu Andi lulus ujian. Tetapi sesungguhnya, yang lulus bukan hanya Andi. Yang lulus adalah doa seorang ibu. Kalau kampus punya transkrip untuk cinta, pengorbanan, air mata, dan doa ibu, mungkin nilainya tidak cukup ditulis dengan A. Sebab ada perjuangan tidak bisa diberi nilai, hanya bisa dikenang sambil menahan air mata. 


 sumber : https://www.facebook.com/share/p/1EZx3WFtd4/

Senin, 10 Agustus 2026

SAAT BAPAK BERTERIMAKASIH



    Namaku Yayan, seorang guru SMA di sebuah kecamatan di kabupaten Kayong Utara. Pagi itu, aku baru selesai berkemas untuk pergi mengajar. Tiba-tiba, hapeku berdering, disana terlihat nama pemanggil adalah Bapak. Telpon kuangkat
 ”Yan, bise ke ngantar Bapak hari ini balek ke Pulau Kumbang?” 
”Insya Allah bise pak, tapi habis dzuhur ye pak, nunggu saye habis ngajar” jawabku. 
”dak ape-ape mah, nunggu hari tedoh sikit biar Wendi dak kepanasan. Langsung jemput ke rumah Erni ye” kata Bapak 
    
    Aku pun pergi mengajar dan larut dalam kesibukanku di sekolah. Bapak pergi ke sini karena beliau ingin menonton pembukaan MTQ ke 34 Tingkat Provinsi yang diadakan di kota ini. 
”Kalo cume hiburan musik, Bapak ndak kuase nontonnye. Tapi ini MTQ, 14 tahun sekali baru ade agik. Entah waktu itu Bapak ni maseh hidup atau ndak” begitu kata Bapak saat menelponku beberapa hari yang lalu. 
    
    Waktu pun berlalu. Setelah sholat dzuhur, ku telpon lagi Bapak, menanyakan apakah Bapak dan Wendi adikku sudah makan. Beliau menjawab sudah makan di kedai menantunya. Memang, semenjak ibu meninggal, kondisi kesehatan Bapak agak menurun. Hal ini pula yang menjadi kekhawatiran terbesarku dan saudara-saudaraku. 
        
      Tubuh Bapak sudah tidak sekuat dulu. Penyakit lambung yang dideritanya, semakin membuat ringkih tubuhnya. Setelah menelpon, aku segera berangkat menuju rumah adikku untuk menjemput Bapak. Ternyata di sana beliau belum datang. Tak lama kudengar bunyi motor Bapak mendekat. 
 ”Yan, nunggu hari tedoh lok ye, panas benar hari ni” ujar Bapak saat masuk ke rumah adikku dengan mengelap peluh di dahinya karena kepanasan di jalan. 
”Iye pak,istirahatlah dolok sambil tidur biar segar pas balek sore nanti” jawabku.
 ”Dak kemalaman mah ke, kau balek nanti?” tanyanya kemudian 
”Dak mah pak, jalan pun udah bagus” kataku menjawabnya. 
Bapak masih mengkhawatirkan kesehatanku. Beliau takut kalau aku kembali drop sebab keletihan mengantarnya. 

Sore pun tiba. Kami kemudian berangkat menuju rumah Bapak. Aku sendiri membonceng Wendi, sementara Bapak membawa motor sendirian. Kurang lebih 90 menit kemudian kami sampai ke rumah Bapak. Setelah menurunkan barang dan membuka bajunya, Bapak menyuruhku membuat kopi untuknya. Sambil duduk di kursi di samping jendela, Bapak memijit-mijit kedua betisnya. 
“Mulailah betis ni sejok dan lemah. Kalo dah keletehan beginilah jadinye kondisi Bapak” katanya sambil terus memijit betisnya. 
”Abis minum kopi ni, Bapak tidoklah lok, istirahatkan badan, saye belom balek mah sampai Anti datang” ujarku.

 Setelah kopinya habis, Bapak pun masuk kamar dan berbaring. Terlihat wajahnya menahan sakit di kaki dan badannya. Hatiku perih melihat kondisinya. Ingin sekali kubawa Bapak tinggal dirumah. Namun, Bapak tidak ingin pindah dari rumah ini dengan berbagai alasan. Tak lama berselang, Anti pun datang. Setelah beberapa saat aku pun pamit pulang ke rumahku karena hari sudah menunjukkan pukul 17.30. Aku masuk ke kamar dan pamit kepada Bapak. 
”Pak, saye balek lok ye” kataku sambil mencium tangannya 
”Hati-hati dijalan ye Yan, terimakasih udah ngantar Bapak” ujar Bapak 

Mendengar itu, hatiku kembali merasakan kepiluan. Aku melangkah menaiki motorku. Sepanjang perjalanan, aku kembali mengingat ucapan terimakasih Bapak kepadaku. Hanya sekedar mengantar beliau, sebuah kebaikan kecil, Bapak sampai berterimakasih kepadaku. Bagaimana denganku? 
Betapa banyak kebaikan dan pengorbanan Bapak untukku yang sampai saat ini hanya sedikit aku berterimakasih. 
Berapa banyak hari yang dilaluinya dengan tanpa istirahat untuk mencari uang agar aku bisa minum susu saat kecil. Berapa malam yang dilalui untuk menjagaku saaat aku sakit? 
Berapa jauh jarak yang Bapak tempuh untuk menyadap karet di tengah malam buta demi membelikan makan buatku? 
Berapa banyak sakit yang Bapak tahan dan tidak dipedulikan dan beliau terus bekerja hanya agar kami memiliki makanan dan pakaian yang cukup? 
Tapi pakaian Bapak bahkan tidak mau ia ganti dan ia jahit saja bagian-bagian yang sobek. 

Air mataku meleleh tanpa bisa ku tahan. Aku menangis tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Bapak, baktiku sangat kurang kepadamu, sementara begitu banyak tingkahku yang membuatmu sedih dan terluka. Maafkan aku Bapak. Maafkan anakmu ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahimu dan semoga Allah menjadikanmu Penghuni Surga tertinggi

PAK ALUI MEMASANG JERAT

(Cerita Rakyat Dayak Simpakng)

Ditranskripsikan oleh : Bastian Arisandi


Suatu hari Pak Alui pergi memasang jerat, beberapa hari kemudian Pak Alui melihat jeratnya dan dapat seekor Pelanduk. Ia pun menyuruh Si Pelanduk untuk pulang duluan dengan membawa penambin yang diikat di tanduk Pelanduk tersebu. Tentu saja setelah beberapa lama dilepaskan Pelanduk tersebut lari dengan kencang ke dalam hutan, namun Pak Alui menyangka Pelanduk sangat semangat untuk menuju ke rumah Pak Alui untuk di masak oleh istrinya. Mak Alui marah karena Pak Alui melepas Pelanduk, ia menyarankan Pak Alui agar di pukul sampai Pelanduk mati.

Beberapa hari kemudian Pak Alui kembali melihat jeratnya, kali ini penuh dengan jamur yang enak jika di masak. Dan Pak Alui pun langsung memasuk jamur tersebut ke dalam karung dan memukul berkali-kali hingga jamur tersebut hancur dan luluh. Sampai ke rumah Mak Alui kembali memarah Pak Alui, ia menyarankan agar sebaiknya di ambil satu-satu lalu di masukkan ke dalam penambin kemudian di bawa ke rumah untuk di masak.

Selang hari berikutnya Pak Alui kembali melihat jeratnya lagi, kali ini telah ada sarang lebah pada jeratnya. Ia pun langsung mengambil satu per satu Lebah tersebut, tentu saja lebah tersebut menyengat. Namun Pak Alui tetap saja mengambil lebah-lebah itu sambil bergumam "aneh jamur kok bisa menyengat!". Sampai ke rumah Mak Alui kembali marah, ia kemudian menyarankan jika kemudian ditakuti dengan api agar Lebah meninggalkan sarangnya dan diambil madunya.

Hari berikutnya Pak Alui kembali melihat jeratnya, kali ini dapat seekor rusa yang sangat besar. Tetapi Pak Alui malah membakar rusa tersebut dan memeras susu-susu Si Rusa. Karena tali penjerat sudah terbakar oleh api maka Si Rusa tersebut lari tunggang langgang ke dalam hutan. Sampai ke rumah, Mak Alui kembali marah. Ia menyarankan agar sebaiknya di tombak lalu di bunuh dan daging-dagingnya di bawa ke rumah untuk di masak.

Hari berikutnya Pak Alui datang lagi ke jeratnya tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Ketika pulang anjing-anjing Pak Alui menggonggong, Pak Alui pun langsung mengejar asal suara gonggongan tersebut. Ternyata anjing tersebut menggonggong ibu mertuanya yang sedang mengambil terung di ladang. Tanpa piki r panjang lagi Pak Alui langsung menghujamkan tombakny ke arah ibu mertuanya tersebut, lalu meninggallah dia. Pak Alui lalu membawa daging tersebut ke rumah dan di masak. Ketika makan, Pak Alui menceritakan daging yang mereka makan tersebut. Mak Alui pun marah, ia mengatakan bahwa itu adalah ibunya yang sedang mengambil terung ke ladang. Ia pun menangis dan mengatakan kuburkan lah daging ini karena ini adalah daging ibu.

Setelah beberapa hari menguburkan ibunya, hari itu Mak Alui menyuruh Pak Alui agar melihat kuburan ibunya sekalian memberikan nasi seadanya ke kuburan tersebut. Pak Alui pun pergilah ke kuburan tadi. Sampai di sana tepat di dekat kuburan sudah berdiri seekor macan. Pak Alui bukan takut atau lari tetapi malah mendekati macan dan memberikan nasi yang dibawanya karena ia menyangka mertuanya telah berubah menjadi macan.

Jumat, 07 Agustus 2026

Ketika Malam Mengajarkan Agung

 



“Lima menit lagi…”

Itulah kalimat yang selalu diucapkan Agung setiap malam. Lima menit untuk menonton video, bermain gim, atau sekadar menggulir layar gawai. Namun, lima menit sering berubah menjadi satu jam.

Fida dan Rendi sudah berkali-kali mengingatkannya.

“Gung, tidur cepat itu kebiasaan anak Indonesia hebat,” kata Fida.

Agung hanya terkekeh. “Aku kuat kok. Besok juga bisa bangun.”

Malam itu, Agung kembali tidur hampir tengah malam.

Pagi harinya, bel sekolah terdengar nyaring. Fida dan Rendi sudah duduk rapi ketika Agung datang dengan langkah gontai. Matanya sembap. Ia menguap berkali-kali.

Pelajaran dimulai. Guru memberikan tugas kelompok yang harus diselesaikan hari itu. Fida dan Rendi berdiskusi dengan penuh semangat. Agung berusaha mengikuti, tetapi pikirannya terasa berkabut. Ia salah menuliskan jawaban dan beberapa kali hampir tertidur.

Ketika guru memeriksa hasil pekerjaan mereka, Agung menunduk.

“Maaf, teman-teman. Aku membuat kelompok kita terlambat.”

Fida tersenyum. “Tidak apa-apa. Tapi kamu harus mulai menjaga waktumu.”

Dalam perjalanan pulang, Agung merenung. Ia baru menyadari bahwa malam yang ia habiskan untuk bermain ternyata mengambil sesuatu dari hari berikutnya: tenaga, konsentrasi, semangat, bahkan kesempatan untuk memberikan yang terbaik.

Malam itu, Agung memandang gawainya cukup lama.

Kemudian ia mematikannya.

Ia menyiapkan buku untuk esok hari, mencuci kaki, berdoa, lalu memadamkan lampu.

“Selamat malam,” bisiknya.

Pagi berikutnya, Agung membuka mata dengan tubuh yang terasa lebih ringan. Ia tersenyum melihat cahaya matahari menyelinap melalui jendela.

Kini ia mengerti.

Menjadi anak hebat bukan hanya tentang berani bermimpi, tetapi juga tentang tahu kapan harus berhenti dan memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat.

Sejak hari itu, Agung tidak lagi takut kehilangan waktu karena tidur lebih awal.

Ia justru takut kehilangan masa depan karena terlalu sering mengorbankan waktu tidurnya.

Kamis, 06 Agustus 2026

ASAL USUL DANAU TOBA

```html

Kisah Asal-Usul Danau Toba

Pembelajaran melalui Cerita Rakyat

👤 Identitas Siswa

Kisah Asal-Usul Danau Toba

📖 Cerita Lengkap

Di suatu daerah di Sumatera Utara, hiduplah seorang pemuda. Suatu hari ia pergi memancing. Setelah cukup lama ia melemparkan pancing, tak seekor ikan pun yang menyentuh umpannya.

Pemuda itu mencoba sekali melemparkan pancingnya agak ke tengah sungai. Tiba-tiba seekor ikan menyambarnya. Dengan susah payah pemuda itu menarik pancingnya hingga tampaklah seekor ikan besar tergantung di ujung tali pancingnya.

Dengan senang hati ia bergegas pulang ke rumah dan langsung membawa ikan itu ke dapur. Ketika hendak memanggang ikan itu, ternyata persediaan kayu bakar telah habis. Ia menuju kamar untuk mengambil persediaan kayu bakar.

Saat kembali ke dapur, ikannya lenyap dan berganti dengan beberapa keping uang emas. Dengan perasaan bingung, pemuda itu mengambil kepingan uang emas itu dan hendak menyimpannya di kamar.

Betapa terkejutnya saat membuka pintu kamar, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik yang ternyata adalah jelmaan dari ikan tadi. Gadis itu meminta untuk diperbolehkan tinggal di rumah itu.

Akhirnya, mereka pun menikah dengan syarat sang pemuda bersumpah tidak akan pernah mengungkit asal-usulnya.

Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Suatu hari, ibunya menyuruh anak itu mengantarkan bungkusan nasi dan ikan panggang untuk ayahnya di ladang.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba anak itu merasa lapar. Ia pun berhenti dan memakan sebagian isinya. Sesampainya di ladang, ia segera menyerahkan bungkusan itu kepada ayahnya.

Sang ayah pun murka melihat isinya. Ia murka sambil berkata, "Dasar anak keturunan ikan!"

Anak itu pun pulang dan mengadukan kejadian itu pada ibunya. Sang ibu pun sedih. Seketika itu pula sang ibu menyuruh anaknya agar naik ke puncak bukit dan ia sendiri segera berlari menuju ke sungai.

Saat ia berada di tepi sungai, cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita. Langit bergemuruh disusul petir menyambar-nyambar disertai hujan yang sangat deras.

Pada saat itulah, sang ibu segera melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Dalam sekejap, sungai itu banjir, menyebabkan genangan air yang luas dan akhirnya berubah menjadi sebuah danau yang sangat besar.

Oleh masyarakat setempat, danau itu dinamakan Danau Toba.

Sumber: Brain Academy

✏️ Pemahaman Cerita

Jawablah kelima pertanyaan berikut berdasarkan cerita.

1. Tokoh

Siapa saja tokoh yang terdapat dalam cerita "Kisah Asal-Usul Danau Toba"?

2. Ide Utama

Apa ide utama atau inti cerita "Kisah Asal-Usul Danau Toba"?

3. Pesan yang Disampaikan

Apa pesan yang disampaikan oleh cerita tersebut kepada pembaca?

4. Hikmah dari Cerita

Apa hikmah atau pelajaran yang dapat kamu ambil dari cerita tersebut?

5. Kosakata Baru

Tuliskan kosakata baru yang kamu temukan dalam cerita beserta artinya.

```

Dandan dan Intan Tarsileh, Cerita Rakyat dari Kecamatan Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara



Syahdan, pada suatu masa di Pulau Maya, ketika hutan bakau masih memeluk muara dan ombak berkejaran menuju tanjung, hiduplah sepasang suami istri yang menjadi buah tutur masyarakat kampung. Pemuda itu bernama Dandan, seorang nelayan yang tangguh sekaligus petani yang rajin. Istrinya, Intan Tarsileh, adalah perempuan Melayu yang dikenal santun, tekun, dan berhati bening laksana embun pagi.

Setiap fajar menyingsing, Dandan mengayuh biduk menyusuri muara sambil menebar pukat, sedangkan Intan Tarsileh menanam padi, menjemur ikan, dan menunggu suaminya di pelantar rumah panggung mereka. Hidup mereka memang sederhana, tetapi penuh kasih sayang. Orang-orang tua di kampung sering berkata, "Harta boleh sedikit, asal hati tidak sempit."

Suatu hari, Raja Sabrande datang berkunjung ke kampung bersama para pengawalnya. Ketika melintasi laman rumah Dandan, pandangannya terpaku kepada Intan Tarsileh yang sedang menjemur padi. Kecantikannya membuat hati sang raja dipenuhi nafsu dan keserakahan. Sejak saat itu, ia bertekad memiliki Intan Tarsileh, walaupun mengetahui perempuan itu telah bersuami.

Di balai kampung, Datok penghulu menasihati sang raja agar tidak merampas hak orang lain. Namun, Sabrande mengabaikan petuah itu. Baginya, kekuasaan adalah jalan untuk memperoleh apa pun yang diinginkan.

Beberapa hari kemudian, Sabrande memanggil Dandan ke istana. Dengan tipu muslihat, ia menuduh Dandan telah menggelapkan upeti kerajaan. Tanpa memberi kesempatan membela diri, Dandan diperintahkan meninggalkan Pulau Maya. Sebelum berangkat, ia menggenggam tangan istrinya.

"Wahai Intan Tarsileh, jagalah kehormatan kita. Selama napasku masih ada, kasihku takkan berpaling."

Dengan mata berkaca-kaca, Intan Tarsileh menjawab, "Abang, kasih yang dibina dengan kejujuran tidak akan roboh diterpa badai."

Hari-hari berlalu. Raja Sabrande berkali-kali datang membujuk Intan Tarsileh dengan emas, kain sutra, dan perhiasan. Namun semuanya ditolak dengan sopan. Baginya, kesetiaan lebih berharga daripada kemewahan. Ia lebih memilih menunggu di pelantar rumah, memandang laut setiap senja sambil berharap suaminya kembali.

Sementara itu, Dandan merantau ke kampung seberang. Berkat kejujuran dan kegigihannya, ia membantu para nelayan menyelamatkan banyak biduk ketika badai besar melanda. Kabar keberaniannya sampai kepada para pembesar kerajaan. Mereka pun menyelidiki tuduhan terhadap Dandan dan akhirnya menemukan bahwa semua itu hanyalah fitnah yang disusun Raja Sabrande demi memenuhi hawa nafsunya.

Malu atas perbuatannya, Raja Sabrande kehilangan penghormatan rakyat. Datok bersama para tetua menjatuhkan hukuman adat kepadanya karena telah menyalahgunakan kuasa dan mencederai marwah masyarakat Melayu.

Ketika Dandan kembali ke Pulau Maya, suara serunai mengalun mengiringi penyambutannya. Intan Tarsileh menyongsong suaminya dengan senyum haru, sementara seluruh kampung bersyukur melihat keduanya dipersatukan kembali.

Sejak saat itu, masyarakat Pulau Maya mewariskan kisah Dandan dan Intan Tarsileh kepada anak cucu sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya melahirkan kehinaan, sedangkan kesetiaan, kejujuran, dan kesabaran akan selalu menemukan jalan menuju kemenangan.

(Ditulis ulang berdasarkan cerita lisan yang disampaikan secara turun temurun oleh orang-orang tua di kecamatan Pulau Maya)

LOKASI SMA Negeri 3 Sukadana

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA