Perlu diingat bahwa, apa yang tertulis di sertifikat murni data yang ditulis di form, jika ada kesalahan penulisan bukan menjadi tanggung jawab panitia, Perlu diingat juga bahwa sertifikat di ttd secara elektronik jadi segala bentuk pemalsuan bisa dikenakan UU ITE. terimakasih.
Perlu diingat bahwa, apa yang tertulis di sertifikat murni data yang ditulis di form, jika ada kesalahan penulisan bukan menjadi tanggung jawab panitia, Perlu diingat juga bahwa sertifikat di ttd secara elektronik jadi segala bentuk pemalsuan bisa dikenakan UU ITE. terimakasih.
Perlu diingat bahwa, apa yang tertulis di sertifikat murni data yang ditulis di form, jika ada kesalahan penulisan bukan menjadi tanggung jawab panitia, terimakasih
Sukadana - Tahun 2023 menjadi
tonggak bersejarah bagi SMA Negeri 3 Sukadana dalam menjalankan pelaksanaan
Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Dengan kehadiran 41 peserta,
kegiatan yang berlangsung lancar dan tertib ini tidak hanya menjadi evaluasi
akademik semata, tetapi juga mengusung harapan besar sebagai indikator peningkatan
kemampuan literasi dan numerasi siswa. Sukses pelaksanaan ANBK tahun ini
menunjukkan komitmen sekolah dalam merangkul teknologi demi pendidikan yang
lebih baik.
Kepala Sekolah SMA Negeri 3
Sukadana, Almustahar, dalam sebuah wawancara, mengungkapkan "Kami
bersyukur bahwa pelaksanaan ANBK hari pertama berjalan dengan lancar dan tanpa
hambatan berarti. Ini adalah buah dari kerjasama yang erat antara seluruh guru,
siswa, dan tim penyelenggara. " ujar Almustahar dengan penuh semangat.
Tahun ini, ANBK di SMA Negeri 3
Sukadana diikuti oleh 41 peserta dari kelas XI. Peserta menjalani tes literasi
dan numerasi seperti tahun-tahun sebelumnya untuk melihat perkembangan
kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Dalam perbincangan lebih lanjut,
Almustahar menjelaskan tujuan mendalam di balik ANBK. "Kami tidak hanya
melihat ANBK sebagai bentuk evaluasi belaka, tetapi juga sebagai peta jalur
yang akan membantu kami memahami sejauh mana pencapaian literasi dan numerasi
siswa. Dengan memanfaatkan teknologi, kami bisa mendapatkan data yang lebih
mendalam dan akurat tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa. Hal ini
memungkinkan kami untuk menyusun program pembelajaran yang lebih tepat sasaran,
memberikan bantuan tambahan bagi yang membutuhkan, dan merancang tantangan yang
sesuai bagi yang sudah unggul."
Harapan besar terletak di pundak
ANBK sebagai pengukur kemampuan literasi dan numerasi siswa. Almustahar percaya
bahwa dengan adanya data yang lebih kaya dan terperinci, sekolah dapat
mewujudkan perubahan nyata dalam pendidikan. "Pendidikan adalah investasi
jangka panjang. Kami ingin melihat setiap siswa tumbuh dan berkembang secara
holistik, tidak hanya dalam mata pelajaran tertentu, tetapi juga dalam
kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pemahaman bacaan yang
mendalam. ANBK adalah alat untuk mencapai visi ini."
ANBK juga memainkan peran penting
dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMA Negeri 3 Sukadana. Dengan data
yang dihasilkan dari tes komputerisasi, guru dapat memahami tren kelas secara
keseluruhan, mengidentifikasi topik yang mungkin sulit bagi sebagian besar
siswa, dan mengukur efektivitas metode pengajaran yang digunakan.
"Pengembangan profesional guru adalah hal yang tak terpisahkan dari
pengembangan siswa. Melalui ANBK, kami dapat memberikan dukungan lebih lanjut
kepada guru dalam mengelola kelas dan merancang pengalaman pembelajaran yang
lebih menarik," jelas Almustahar.
Di akhir percakapan, Almustahar
mengungkapkan optimisme mengenai masa depan. "Kami melihat ANBK sebagai
batu loncatan menuju masa depan yang lebih cerah. Dengan memanfaatkan teknologi,
kami membangun pondasi yang kokoh untuk pendidikan yang lebih inklusif dan
bermakna. ANBK bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang membentuk para
pemimpin masa depan yang siap menghadapi segala tantangan global. Selain itu,
hasil ANBK ini akan ditampilkan dalam bentuk rapor Pendidikan SMAN 3 Sukadana
yang akan ditindaklanjuti dengan Perencanaan Berbasis Data (PBD) seluruh
program kerja sekolah ke depannya"
Pelaksanaan ANBK di SMA Negeri 3
Sukadana tahun ini telah membuktikan bahwa pendidikan dan teknologi dapat
bersinergi dengan harmonis. Dengan semangat inovasi dan komitmen yang kuat,
sekolah ini telah membuka pintu menuju perubahan positif dalam dunia
pendidikan, serta memberikan harapan akan generasi yang lebih terampil dan siap
mengukir prestasi di masa depan. (Mr.D)
Untuk postingan kali ini saya coba melengkapi tentang Kurikulum Merdeka,
khususnya tentang Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelaran (KKTP). KKTP itu seperti KKM
dalam kurikulum 2023, tapi tidak sama persis, lebih fleksibel dalam
menentukannya.
Lalu bagaimana dong bentuk format KKTP dan cara membuatnya? itu semua
sudah terjawab pada bukuPanduan Pembelajaran dan Asesmen (PPA) Kurikulum Merdeka revisi tahun 2022, tepatnya bisa dibuka pada halaman 32. Dan
berikut ini kami kutipkan untuk Anda, mari kita simak bersama-sama.
A. Cara Membuat / Menentukan KKTP
Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan
pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria atau indikator ketercapaian
tujuan pembelajaran.
Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan
saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana
pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar.
Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam
memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai
dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini
merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/
didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti bahwa ia telah mencapai
tujuan pembelajaran.
Dengan demikian,
pendidik tidak disarankan untuk menggunakan
angka mutlak (misalnya, 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria.
Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan,
maka pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70 - 85, 85 - 100, dan sebagainya).
Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik
telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan
menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya:
(1) menggunakan deskripsi sehingga apabila peserta didik tidak
mencapai kriteria tersebut maka dianggap belum mencapai tujuan
pembelajaran,
(2) menggunakan rubrik yang dapat mengidentifikasi sejauh mana
peserta didik mencapai tujuan pembelajaran,
(3) menggunakan skala atau interval nilai, atau pendekatan
lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pendidik dalam
mengembangkannya.
Berikut adalah contoh-contoh pendekatan yang dimaksud.
Contoh salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia Fase C:
"peserta didik mampu menulis laporan hasil pengamatan dan wawancara"
Pendekatan 1: Menggunakan deskripsi kriteria
Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria
ketuntasan:
Laporan peserta didik menunjukkan kemampuannya menulis teks eksplanasi, hasil
pengamatan, dan pengalaman secara jelas.
Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang
logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.
Kriteria
Tidak Memadai
Memadai
Laporan menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut.
✓
Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas.
✓
Laporan menceritakan pengalaman secara jelas.
✓
Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan
argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.
✓
Kesimpulan: Peserta didik dianggap mencapai tujuan pembelajaran jika
minimal 3 kriteria memadai. Jika ada dua kriteria masuk kategori tidak
tuntas, maka perlu dilakukan intervensi agar pencapaian peserta didik
ini bisa diperbaiki
Pendidik dapat menggunakan rubrik ini untuk kriteria dari tujuan pembelajaran
seperti contoh di atas, atau dapat pula menggunakan tujuan-tujuan pembelajaran
untuk menentukan ketuntasan
CP
pada satu fase.
Pendekatan 2: menggunakan rubrik
Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria
ketuntasan yang terdiri atas dua bagian: Isi laporan dan penulisan.
Dalam rubrik terdapat empat tahap pencapaian, dari
baru berkembang,
layak,
cakap
hingga
mahir.
Dalam setiap tahapan ada deskripsi yang menjelaskan performa peserta didik.
Pendidik menggunakan rubrik ini untuk mengevaluasi laporan yang dihasilkan
oleh peserta didik.
Baru berkembang
Layak
Cakap
Mahir
Isi Laporan
Belum mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan
pengalaman belum jelas tertuang dalam tulisan. Ide dan
informasi dalam laporan tercampur dan hubungan
antara paragraf tidak berhubungan.
Mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan
pengalaman secara jelas. Laporan menunjukkan hubungan
yang jelas di sebagian paragraf
Mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan
pengalaman secara jelas. Laporan menjelaskan hubungan kausalitas
yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga
dapat meyakinkan pembaca.
Mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan
pengalaman secara jelas. Laporan menjelaskan hubungan kausalitas
yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga
dapat meyakinkan pembaca serta ada fakta-fakta pendukung
yang relevan.
Penulisan (tanda baca dan huruf kapital)
Belum menggunakan tanda baca dan huruf kapital atau
sebagian besar tidak digunakan secara tepat.
Sebagian tanda baca dan huruf kapital digunakan
secara tepat.
Sebagian besar tanda baca dan huruf kapital digunakan
secara tepat.
Semua tanda baca dan huruf kapital digunakan secara tepat
Kesimpulan: Peserta didik dianggap sudah mencapai tujuan
pembelajaran jika kedua kriteria di atas mencapai minimal tahap cakap
Pendekatan 3: menggunakan interval nilai
Untuk menggunakan interval, pendidik dan/ atau satuan pendidikan dapat
menggunakan rubrik maupun nilai dari tes. Pendidik menentukan terlebih
dahulu intervalnya dan tindak lanjut yang akan dilakukan untuk para peserta
didik.
Contoh a.
Untuk nilai yang berasal dari nilai tes tertulis atau ujian, pendidik
menentukan interval nilai. Setelah mendapatkan hasil tes, pendidik dapat
langsung menilai hasil kerja peserta didik dan menentukan tindak lanjut
sesuai dengan intervalnya.
0 - 40%
belum mencapai, remedial di seluruh bagian
41 - 65 %
belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan
66 - 85 %
sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial
86 - 100%
sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih
Bila peserta didik dapat mengerjakan
16 dari 20 soal (dengan bobot yang sama), maka ia mendapatkan nilai
80%. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa peserta didik tersebut sudah
mencapai ketuntasan dan tidak perlu remedial.
Contoh b.
Pendidik dapat menggunakan interval nilai yang
diolah dari rubrik. Seperti dalam tugas menulis laporan, pendidik dapat
menetapkan empat kriteria ketuntasan:
Menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut
Menunjukkan hasil pengamatan yang jelas
Menceritakan pengalaman secara jelas
Menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang
logis sehingga dapat meyakinkan pembaca
Untuk setiap kriteria terdapat 4 (empat) skala pencapaian (1-4).
Pendidik membandingkan hasil tulisan peserta didik dengan rubrik untuk
menentukan ketercapaian peserta didik.
Kriteria Ketuntasan
belum muncul (1)
muncul sebagian kecil (2)
sudah muncul di sebagian besar (3)
terlihat pada keseluruhan teks (4)
Menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut
✓
Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas
✓
Laporan menceritakan pengalaman secara jelas.
✓
Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan
argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.
✓
Diasumsikan untuk setiap kriteria memiliki bobot yang sama sehingga pembagi
merupakan total dari jumlah kriteria (dalam hal ini 4 kriteria) dan nilai
maksimum (dalam hal ini nilai maksimumnya 4).
Satuan pendidikan dan/ atau guru dapat memberikan bobot sehingga penghitungan
disesuaikan dengan bobot kriteria.
Setelah mendapatkan nilai (baik dari rubrik ataupun nilai dari tes), pendidik
dan/atau satuan pendidikan dapat menentukan interval nilai untuk menentukan
ketuntasan dan tindak lanjut sesuai dengan intervalnya.
0 - 40%
belum mencapai, remedial di seluruh bagian
41 - 60%
belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan
61 - 80%
sudah mencapai ketuntasan,
tidak perlu remedial
81 - 100%
sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih
Pada contoh di atas, pendidik hanya menggunakan rubrik dan diambil kesimpulan
bahwa peserta didik di atas sudah menuntaskan tujuan pembelajaran, karena
sebagian besar kriteria sudah tercapai.
B. Tonton Video Cara Menentukan KKTP
Untuk lebih memahami bagaimana cara menentukan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) Silahkan tonton dan simak Video Pembelajaran yang ada di pelatihan mandiri Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang dibagi menjadi beberapa bagian berikut ini:
Caranya klik link unduhan di atas, kemudian cari menu
"File" ---
"Download" ---
"Microsoft Excel (.xlsx)"
Kalau saya bilang file ini sudah bisa dikatakan aplikasi KKTP, karena
didalamnya sudah ada rumus-rumus yang akan otomatis menampilkan keterangan
intervensi apakah perlu remidial ataukah sudah tuntas.
1. Sheet Interval KKTP
Sheet Interval KKTP menginformasikan rentang, kriteria, dan intervensi tindak
lanjut yang harus dilakukan.
2. Sheet Format 1 KKTP
Aplikasi KKTP ini oleh pengembangya disediakan 2 format, untuk format 1 KKTP,
Ibu/Bapak Guru hanya menginputkan nilai dari tes tertulis. Nantinya keterangan
kriteria ketuntasan dan tindak lanjut intervensi akan otomatis muncul.
3. Sheet Format 2 KKTP
Pada format 2 KKTP, Ibu/Bapak Guru memasukkan skala penilaian menggunakan
rubrik yang nantinya akan muncul otomatis nilai angkanya beserta keterangan
intervensinya.
D. Penutup
Demikanlah yang bisa kami posting tentang
Contoh Format KKTP Kurikulum Merdeka dan Cara Menentukannya.
Semoga kedepannya sudah banyak file contoh KKTP yang bisa di download dan
tinggal mengedit saja sesuai kebutuhan.
Salam Merdeka
Belajar....
Terima kasih telah menyempatkan berkunjung, dan
silakan bila ingin berkomentar.
Wassalamamualaikum Wr. Wb.
Sumber Referensi:
Panduan Asesmen dan Pembelajaran Kurikulum Merdeka Revisi 2022
Pada suatu hari di SMA Negeri 3 Sukadana, terdapat sebuah kejadian yang mengubah nasib sekolah tersebut. SMA Negeri 3 Sukadana adalah sebuah sekolah menengah yang terletak di sebuah desa kecil di pinggiran kota. Meskipun terletak di daerah terpencil, sekolah ini memiliki potensi yang luar biasa.
Suatu pagi, seorang produser televisi yang sedang mencari sekolah inspiratif untuk acara televisi datang ke SMA Negeri 3 Sukadana. Produser tersebut bernama Rina, dan dia sangat terkesan dengan semangat dan dedikasi para siswa dan guru di sekolah ini.
Rina memutuskan untuk membuat sebuah acara televisi yang akan menyoroti kisah sukses dan perjuangan SMA Negeri 3 Sukadana. Dia berbicara dengan kepala sekolah, Pak Wijaya, dan menjelaskan maksudnya. Pak Wijaya dan seluruh staf sekolah dengan senang hati menerima tawaran tersebut.
Kisah SMA Negeri 3 Sukadana pun mulai disorot oleh kru televisi. Mereka merekam kegiatan sehari-hari di sekolah, termasuk pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan upacara sekolah. Mereka juga berbicara dengan siswa, guru, dan orang tua untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih lengkap.
Acara televisi ini mengungkapkan bagaimana sekolah kecil ini berhasil menghadapi berbagai tantangan dan memberikan pendidikan berkualitas kepada siswa-siswanya. Mereka memiliki sumber daya yang terbatas, tetapi semangat dan dedikasi yang mereka miliki sungguh menginspirasi.
Dalam acara televisi tersebut, cerita-cerita inspiratif dari para siswa diungkapkan. Salah satu siswa, bernama Maya, bercerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh dengan rintangan. Maya berasal dari keluarga kurang mampu, namun dengan dukungan dan bimbingan dari guru-guru di SMA Negeri 3 Sukadana, dia berhasil meraih prestasi akademik yang gemilang. Kisahnya mengilhami banyak orang yang menonton acara tersebut.
Selain itu, acara televisi ini juga menyoroti bagaimana guru-guru di SMA Negeri 3 Sukadana berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik meskipun dengan keterbatasan yang ada. Mereka mengajar dengan penuh semangat dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi para siswa. Banyak orang tua yang terinspirasi dan sadar akan pentingnya peran guru dalam membentuk masa depan anak-anak mereka.
Setelah acara televisi ini ditayangkan, SMA Negeri 3 Sukadana mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat dan media. Banyak orang yang tergerak hatinya untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada sekolah ini. Mereka menyumbangkan buku, peralatan sekolah, dan bahkan menyediakan beasiswa pendidikan untuk siswa-siswa berprestasi.
Dengan bantuan dan dukungan yang terus mengalir, SMA Negeri 3 Sukadana semakin berkembang. Mereka dapat memperluas fasilitas sekolah, meningkatkan kualitas pengajaran, dan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi para siswa.
Kisah SMA Negeri 3 Sukadana sebagai sekolah inspirasi terus menyebar ke berbagai penjuru. Sekolah-sekolah lain mengambil contoh dan belajar dari pengalaman mereka. SMA Negeri 3 Sukadana menjadi model bagi sekolah-sekolah di daerah pedesaan yang ingin memberikan pendidikan berkualitas kepada siswa-siswanya.
Melalui semangat, dedikasi, dan ketekunan, SMA Negeri 3 Sukadana mampu mengubah nasib sekolah mereka. Mereka membuktikan bahwa dengan sumber daya yang terbatas, tetapi semangat yang besar, sebuah sekolah bisa menjadi sumber inspirasi dan harapan bagi banyak orang.
Pada acara televisi yang menyoroti SMA Negeri 3 Sukadana sebagai sekolah inspirasi, salah satu aspek yang paling disoroti adalah kedisiplinan siswa dan implementasi budaya 5S.
Kedisiplinan di SMA Negeri 3 Sukadana menjadi contoh yang patut diteladani. Setiap siswa diharapkan untuk disiplin dalam waktu dan tata tertib. Mereka tiba tepat waktu di sekolah, mengikuti jadwal pelajaran dengan tertib, dan menjaga kebersihan serta kerapihan di lingkungan sekolah. Kedisiplinan ini dipupuk melalui pengawasan dan pembiasaan yang konsisten oleh para guru dan staf sekolah. Hal ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang teratur dan efisien.
Selain kedisiplinan, budaya 5S juga menjadi sorotan utama dalam acara televisi tersebut. Budaya 5S adalah praktik pengorganisasian dan pengelolaan lingkungan yang tertib dan bersih. SMA Negeri 3 Sukadana mengimplementasikan prinsip 5S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun. Setiap siswa dan guru turut bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan sekolah agar selalu rapi, bersih, dan tertata dengan baik.
Acara televisi juga menyoroti kegiatan makan bersama di SMA Negeri 3 Sukadana. Satu hari dalam sebulan, seluruh siswa dan guru berkumpul untuk makan bersama di teras-teras sekolah. Kegiatan ini bukan hanya sekadar makan, tetapi juga merupakan waktu untuk saling berinteraksi, berbagi cerita, dan memperkuat hubungan antar siswa dan guru. Makan bersama ini menciptakan ikatan kekeluargaan yang erat di antara komunitas sekolah dan meningkatkan rasa kebersamaan.
Selain itu, SMA Negeri 3 Sukadana juga mengadakan kegiatan "Jumat Berbagi" setiap minggunya. Pada hari Jumat, siswa-siswa dan guru menyumbangkan bantuan kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Mereka memasukkan barang-barang yang diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari di dalam kantong-kantong plastik putih dan menggantungnya di depan halaman sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai kepedulian sosial kepada siswa dan memupuk rasa empati serta kepedulian terhadap sesama.
Melalui penekanan pada kedisiplinan, budaya 5S, kegiatan makan bersama, dan Jumat Berbagi, SMA Negeri 3 Sukadana menjadi sekolah inspiratif yang tidak hanya mengutamakan pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa yang baik dan bertanggung jawab. Melalui acara televisi tersebut, sekolah ini berhasil menginspirasi banyak orang dengan nilai-nilai positif yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Mengukir Semangat Kebersamaan dan Dedikasi Sebagai Anggota Bantara
Embun pagi bersahaja menandai permulaan hari bagi para peserta Kemah Pramuka Penegak GUDEP SMA N 3 SUKADANA menuju Bumi Perkemahan Pantai Pasir Mayang. Persiapan keberangkatan telah dilakukan sejak pagi-pagi buta. Keberangkatan kali ini dikemas dalam bentuk napak tilas (jalan kaki) dengan rute Semanjak, Payak Itam, lingkar Kota, Simpang Saut, Pampang Harapan dan Pantai Pasir Mayang.
Dengan seragam pramuka yang khas, para peserta berkumpul di depan halaman sekolah. Mereka membawa perbekalan kecil seperti air minum dan camilan untuk menyemangati diri mereka sepanjang perjalanan. Beberapa di antara mereka membawa juga bendera dan bambu untuk menunjukkan semangat kebersamaan mereka sebagai satu kelompok.
Pukul 6 pagi, mereka sudah berkumpul di sekolah dan mulai pukul 7 pagi mereka memulai perjalanan. Langkah mereka penuh semangat, sambil bernyanyi dan bercanda. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka berbicara tentang harapan dan impian mereka menjadi anggota Bantara yang berdedikasi.
Perjalanan tersebut tidak hanya sekedar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan rohani dan mental. Mereka menghadapi tantangan berupa jalan yang terjal dan teriknya matahari yang menyengat. Namun, semangat mereka tidak pernah padam. Mereka saling mendukung dan mendorong satu sama lain untuk terus maju.
Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka tiba di tengah perjalanan di Jalan Lingkar Kota. Di sana, mereka menyempatkan diri sarapan bersama di tengah jalan dengan bekal yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
Dengan tenaga yang kembali terisi, para peserta melanjutkan perjalanan mereka. Setelah beberapa kilometer lagi, mereka akhirnya tiba di Pantai Pasir Mayang. Di sana, mereka disambut oleh para pembina Bantara dan panitia pelantikan dengan antusiasme yang besar.
Perjalanan panjang yang mereka tempuh telah membuktikan keseriusan dan dedikasi mereka untuk menjadi anggota Bantara. Mereka sadar bahwa peran mereka tidaklah ringan, tetapi mereka siap menghadapi setiap tantangan dan mengemban tanggung jawab dengan sepenuh hati.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam (± 12 KM), para peserta langsung disibukkan dengan tantangan pendirian tenda. Alih-alih bersantai sambil menikmati keindahan pantai, para pemuda Tangguh ini langsung mempersiapkan segala keperluan dan barang sangga masing-masing. Mereka harus pandai mengatur waktu yang diberikan untuk istirahat, salat dan makan sebelum gladi upacara pembukaan dimulai dan dilanjutkan dengan Pelaksanaan Upacara Pembukaan pada pukul 14.00 WIB.
Upacara dipimpin langsung oleh Kak Erik Yuniastuti Sekaligus membuka secara resmi kegiatan kemah ini. Setelah upacara selesai, para peserta pun diberikan waktu untuk melaksanakan salat Ashar. Kegiatan sore dilanjutkan dengan persiapan api unggun serta pelaksanaan game yang menantang kebersamaan, kedisiplinan. Perjalanan napak tilas yang panjang itu cukup melelahkan namun mereka tetap semangat sehingga semakin menguatkan ikatan persaudaraan di antara mereka.
Malam harinya, ditemani desir ombak dan langit yang benderang, berlangsung pula sesi sharing bertema malam keakraban yang diisi oleh Kak Suhada dengan memberikan motivasi dan nasehat. Berlangsung penuh khidmat dan kebersamaan dibawah pohon dan sinar redup sebuah lampu, acara sharing tersebut menggugah peserta menjadi teladan yang baik dan menginspirasi orang lain dengan pengaplikasian Dasa Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang pukul 21.00 WIB, upacara api unggun dimulai. 10 peserta dipilih untuk mengucapkan Dasa Dharma dengan membawa lilin berdiri tegak disekeliling unggun yang siap dihidupkan oleh Kak Chandra. Semangat kebersamaan terasa semakin membara dengan kehadiran Kak Yo’ dan dewan guru SMAN 3 Sukadana pada momen tersebut.
Cahaya dan kehangatan dari api unggun memancarkan semangat persaudaraan dan dedikasi mereka sebagai Bantara. Para peserta berdiri di sekitar api unggun, memandangi api yang memancarkan cahaya kegelapan malam. Suara riuh dan tawa riang memenuhi udara, sementara lagu-lagu kebersamaan dinyanyikan dengan penuh semangat.
Pembina memberikan kata-kata inspiratif kepada para peserta, mengingatkan mereka akan tanggung jawab dan peran penting yang diemban. Dia juga memotivasi mereka untuk tetap menjaga semangat kebersamaan dan kebaikan yang tercermin dalam api unggun.
Malam itu, api unggun menjadi simbol persatuan dan semangat dalam menjalani peran baru sebagai anggota Bantara. Para peserta mengikuti berbagai kegiatan seperti permainan tradisional, pertunjukan musik, dan cerita bersama di sekitar api unggun yang membara.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sementara cahaya api unggun semakin redup, semangat dan komitmen para peserta untuk menjadi agen perubahan yang positif tetap berkobar. Mereka merasa terinspirasi dan siap menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka dalam kegiatan Bantara di sekolah dan masyarakat.
Acara api unggun ini menjadi momen berharga dalam perjalanan mereka sebagai Bantara. Di bawah langit malam yang penuh bintang, mereka saling berbagi cerita, pengalaman, dan harapan masa depan. Semua itu semakin memperkuat ikatan persaudaraan di antara mereka.
Pada suatu hari di sebuah desa yang damai, tinggallah seorang pemuda bernama Amir. Ia adalah seorang pemuda yang rajin, baik hati, dan selalu membantu orang-orang di sekitarnya. Desa tersebut hidup dalam harmoni, dan penduduknya saling mendukung satu sama lain. Amir adalah tukang kayu yang sangat terampil. Ia sering membuat perabotan rumah tangga untuk penduduk desa dan menjualnya dengan harga yang wajar. Setiap hari, ia bekerja dengan penuh semangat, berusaha memberikan yang terbaik bagi pelanggannya.
Suatu hari, ketika Amir sedang membuat meja kayu di bengkelnya, datanglah seorang pria bernama Rizal. Rizal adalah seorang pedagang kaya yang baru saja membangun sebuah mansion megah di desa tersebut. Ia melihat keahlian Amir dan berpikir bahwa ia bisa mempekerjakan Amir untuk membuat beberapa perabotan kayu untuk mansion-nya. Rizal memberikan Amir proyek besar dengan imbalan yang sangat menggiurkan. Amir sangat senang dengan kesempatan ini dan berjanji akan menyelesaikan proyek tersebut dengan sempurna. Ia mulai bekerja tanpa henti, menghabiskan waktu dan tenaganya untuk memastikan setiap detail meja dan kursi itu sempurna.
Namun, dalam kelelahannya, saat menghaluskan permukaan sebuah meja, Amir melakukan kesalahan kecil. Ia tergesa-gesa dan tidak memperhatikan dengan seksama. Karena kesalahannya itu, terdapat goresan kecil yang terlihat pada meja tersebut. Amir sangat terpukul. Ia tahu bahwa kesalahannya tersebut akan merusak keindahan meja itu. Rasa bersalah memenuhi pikirannya, dan ia merasa bahwa seribu kebaikan yang pernah ia lakukan akan dilupakan karena kesalahan kecil ini.
Hari pun berlalu, dan tibalah saatnya Rizal datang untuk mengambil perabotan yang dipesan. Amir dengan hati-hati menunjukkan hasil kerjanya. Ketika Rizal melihat goresan kecil pada meja itu, wajahnya berubah menjadi marah. Rizal mengungkapkan kekecewaannya pada Amir. Ia berkata bahwa meskipun Amir telah melakukan banyak kebaikan sebelumnya, kesalahan yang satu ini telah merusak semua itu. Rizal menolak untuk membayar Amir dan meninggalkan bengkelnya dengan marah.
Amir merasa hancur. Ia merenung dan menyadari bahwa memang benar bahwa seribu kebaikan yang pernah dilakukannya dapat dilupakan oleh satu kesalahan kecil. Ia merasa bahwa ia telah merusak reputasinya dan hubungannya dengan penduduk desa. Namun, pada malam hari, saat semua tampak suram bagi Amir, datanglah penduduk desa yang dulu pernah dibantu olehnya. Mereka membawa hadiah kecil dan berkata bahwa meskipun Amir melakukan kesalahan, mereka masih menghargainya sebagai sosok yang baik dan penyayang.
Penduduk desa mengingat semua kebaikan yang pernah dilakukan Amir, dan mereka percaya bahwa kesalahan itu adalah sesuatu yang bisa dimaafkan dan diatasi. Mereka menunjukkan dukungan mereka dan membangun kembali kepercayaan yang rusak. Amir sangat terharu oleh cinta dan dukungan yang diberikan oleh penduduk desa. Ia berjanji untuk belajar dari kesalahannya dan tidak membiarkan hal seperti itu terjadi lagi di masa depan. Ia menyadari bahwa kesalahan itu adalah bagian dari kehidupan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaikinya dan melanjutkan perjalanan kita menuju kebaikan.
Dari kejadian itu, Amir belajar bahwa meskipun seribu kebaikan dapat dilupakan oleh satu kesalahan, kesalahan itu sendiri tidak boleh mendefinisikan dirinya. Ia menyadari bahwa penting untuk belajar dari kesalahan dan tidak menyerah pada kebaikan yang ada dalam dirinya. Dalam kehidupan ini, setiap orang dapat melakukan kesalahan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki diri dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah kejadian itu, Amir merenung tentang pepatah yang berbunyi "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Ia menyadari bahwa terlalu sering manusia cenderung fokus pada kesalahan kecil atau cacat yang ada pada suatu hal, sementara mereka melupakan segala kebaikan dan potensi yang lebih besar. Amir berpikir bahwa kejadian dengan Rizal menggambarkan hal yang sama. Rizal hanya fokus pada goresan kecil pada meja itu, sementara ia melupakan kualitas dan keindahan keseluruhan karya yang telah dibuat oleh Amir. Ini mengingatkannya pada betapa mudahnya manusia untuk memusatkan perhatian pada kesalahan atau kekurangan, sementara melupakan atau mengabaikan segala potensi baik yang ada di sekitar mereka.
Dengan tekad yang baru, Amir memutuskan untuk tidak membiarkan satu kesalahan menghalangi dirinya untuk terus berkarya dan memberikan kebaikan kepada orang lain. Ia sadar bahwa keberhasilannya tidak bisa ditentukan semata-mata oleh satu kesalahan kecil. Ia melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang kayu dengan semangat dan dedikasi yang sama seperti sebelumnya. Kisah Amir menyebar ke seluruh desa, dan penduduk desa mulai menyadari betapa pentingnya menghargai dan mengakui kebaikan yang ada dalam diri seseorang. Mereka belajar untuk melihat lebih jauh dari kesalahan kecil dan menghargai nilai sebenarnya dari setiap individu.
Penduduk desa mulai mempraktikkan makna dari pepatah "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Mereka tidak lagi terlalu fokus pada tinta setitik pada kertas kosong, melainkan melihat keseluruhan gambaran dan menghargai segala potensi yang dimiliki setiap individu. Masih banyak bagian kertas yang bisa digunakan untuk menulis, seperti itulah masih banyak kebaikan yang bisa diambil dari suatu kejadian. Desa tersebut menjadi lebih harmonis dan penuh toleransi. Penduduknya belajar untuk memaafkan kesalahan dan memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang telah berbuat salah. Mereka menyadari bahwa nilai sejati seseorang tidak hanya dapat dilihat dari satu kesalahan, tetapi juga dari sejauh mana mereka berusaha untuk memperbaiki diri dan memberikan kontribusi yang baik kepada komunitas.
Dalam cerita ini, kita belajar bahwa kita harus melihat lebih dari sekadar kesalahan kecil atau cacat yang ada pada seseorang atau sesuatu. Kita harus fokus pada kebaikan yang ada dan memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang telah berbuat kesalahan. Dengan memahami dan menghargai nilai-nilai sejati setiap individu, kita dapat menciptakan lingkungan yang saling mendukung dan penuh toleransi, di mana seribu kebaikan tidak akan dilupakan hanya karena satu kesalahan kecil.